E-MAGAZINE MANAJEMEN ED MEI 2021

Rp100.000,00

MELIHAT KEMBALI PENATAAN TATA KELOLA

Sering orang berpikir bahwa tata kelola hanya berkaitan dengan kepentingan pemegang saham. Teori keagenan (agency theory) menjelaskan bahwa manajemen, dalam hal ini diwakili oleh direksi, diberi amanah oleh investor (pemegang saham) untuk mengelola modal yang diberikan sehingga memberi nilai tambah. Dewan komisaris ditunjuk oleh pemegang saham untuk mengawasi dan menberi nasihat dalam menjalankan usaha.

Pembaca dapat menyelami kembali basis teori good corporate governance (GCG) pada rubrik Fokus Utama. Pada rubrik Fokus Utama, pembaca juga dapat menemukan kembali unsur GCG yang penting, yaitu manajemen risiko. Three lines of defense dan four eyes principle menjadi basis utama penerapan manajemen risiko. Pada rubrik Fokus, pembaca dapat mengikuti beberapa contoh penerapan GCG di berbagai organisasi atau situasi. Di Fokus 2, misalnya, kita bisa melihat penerapan IT governance di Bank BRI.

Masih di rubrik Fokus, perusahaan ditantang untuk melihat kembali pola CG setelah pandemi Covid-19 merebak. Teori keagenan, demikian menurut tulisan ini, layak dikoreksi. Pandemi membuktikan banyak pemangku kepentingan yang menuntut peran perusahaan dalam menciptakan nilai tambah sesuai kepentingan mereka.

Pada rubrik lain, tentu saja pembaca masih bisa menikmati berbagai contoh dan ide penerapan aspek-aspek GCG di perusahaan, organisasi nirlaba, dan bahkan pemerintah. Rubrik Dewan membahas CG Report 2020 (Laporan Tata Kelola Perusahaan 2020) yang diterbitkan oleh Asian Corporate Governance Association (ACGA). Berdasarkan laporan ini, Indonesia menduduki peringkat 12 di kawasan Asia. Penyebabnya, menurut laporan ini, di Indonesia hanya sektor perbankan yang menerapkan tata kelola secara ketat dengan pengawasan OJK.

Need Help? Chat with us