MENANAMKAN GROWTH MINDSET DI JASA MARGA

Seperti perusahaan lain pada umumnya, PT Jasa Marga (Persero) tidak bisa mengelak dari hempasan gelombang kemajuan teknologi digital. Ibarat pedang bermata dua, transformasi digital membawa dua tantangan sekaligus. Pertama, mendapatkan dan mengembangkan talent memasuki era digital? Kedua, bagaimana me-reskilling karyawan lama agar tetap relevan dengan tuntutan masa depan. Alex Denni, Chief of Human Capital &

KOLABORASI UNTUK PERTUMBUHAN BISNIS

Era VUCA (volatile, uncertainty, complexity, ambiguity) mengharuskan perusahaan beradaptasi secara cepat terhadap perubahan lingkungan, terutama pasar. Tuntutan itu hanya bisa dipenuhi apabila perusahaan menjadi lebih gesit. Kegesitan tersebut salah satunya bisa dicapai apabila perusahaan dapat membangun kolaborasi, baik internal maupun eksternal. Kolaborasi internal berarti perusahaan harus dapat membangun kerja sama lintas bisnis, divisi, fungsi, cabang,

MEMBANGUN POLA PIKIR PERTUMBUHAN DALAM TRANSFORMASI DIGITAL

Tantangan bagi semua perusahaan legacy dalam transformasi digital adalah pola pikir insan di dalamnya. Penggunaan teknologi digital mensyaratkan talent yang memiliki pola kerja agile dan pola pikir pertumbuhan (growth mindset). Perusahaan legacy, biasanya dihadapkan dua tantangan ketika mengadopsi cara kerja agile dan pola pikir pertumbuhan. Pertama adalah mendapatkan talent yang mendukung. Sudah bukan rahasia lagi

TRANSFORMASI DIGITAL BGR LOGISTICS

“Selama ini tidak banyak orang yang tahu BGR itu perusahaan apa. Dengan memberi nama baru BGR Logistics, kami memposisikan diri sebagai perusahaan logistik. Dengan repositioning, kami menjadi lebih mudah untuk membuka peluang kerja sama dengan pelanggan baru,” ungkapnya kepada Manajemen dalam sebuah wawancara di kantornya. Kuncoro ingin mengubah BGR Logistics menjadi perusahaan yang berbasis digital.

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DI ERA MESIN PINTAR

Salah satu tugas utama pemimpin adalah mengambil keputusan. Kualitas kepemimpinan seseorang ditentukan oleh pembuatan keputusan. Dan tentu saja, semua pemimpin, di semua level telah memiliki kompetensi dalam pengambilan keputusan ini. Mereka telah belajar di kelas-kelas bisnis, dari praktik nyata dalam organisasi, maupun belajar dari pengalaman orang lain. Namun, lingkungan organisasi telah berubah drastis di era

Pengembangan Karyawan Era Digital

Seorang manajer pengembangan SDM perusahaan telekomunikasi dalam sebuah wawancara  dengan Manajemen baru-baru ini mengungkapkan bahwa organisasinya tidak lagi mengirim karyawannya untuk mengikuti program S2. Alasannya sederhana: mahal, memakan waktu, dan hasilnya tidak menjawab kebutuhan spesifik perusahaan. Bayangkan, untuk mengikuti S2, perusahaan harus mengeluarkan biaya sekitar Rp150 juta per karyawan. Selain itu, karyawan yang belajar harus