Melepaskan Diri dari Trauma Tempat Kerja

Melepaskan Diri dari Trauma Tempat Kerja

Bukan rahasia, semua pekerja mencari lingkungan yang memungkinkan mereka berkembang secara mental dan emosional. Pekerja sekarang tidak toleran terhadap perlakuan bermusuhan, komunikasi yang buruk, dan drama kantor. Sebuah studi yang dilakukan oleh Sloan School of Management MIT menemukan bahwa budaya tempat kerja yang beracun (toxic workplace) merupakan alasan nomor satu orang meninggalkan pekerjaan. Itulah sebabnya, BUMN sekarang telah menerapkan kebijakan respectful workplace, untuk menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan aman.

Ammy Galo, psikolog dari Harvard University, menyarankan kita harus meninggalkan perusahaan apabila perusahaan tersebut membahayakan kesehatan fisik dan mental. Bersyukurlah kalau Anda berani dan berhasil meninggalkan tempat kerja yang buruk. Akan tetapi, ternyata pengalaman bekerja di tempat yang buruk sering meninggalkan bekas yang sangat dalam.

Trauma

Melepaskan sepenuhnya efek dari tempat kerja yang beracun bisa sangat sulit. Banyak profesional yang cerdas dan cakap harus berjuang untuk pulih dari ketakutan dan bahkan intimidasi yang mereka alami. Trauma ini membuat dirinya selalu waspada, curiga, dan bereaksi berlebihan di tempat kerja barunya. Tentu saja, ini berpengaruh terhadap kinerja dan kenyamanan dirinya dan rekan kerja barunya.

Ambil contoh Anton, yang baru tiga bulan menjabat sebagai manajer proyek di sebuah perusahaan perangkat lunak. Dengan semua ukuran, 90 hari pertamanya telah berhasil. Dia berhasil menerapkan prosedur baru yang sangat dibutuhkan dan telah membangun hubungan positif dengan pemangku kepentingan utama. Terlepas dari keberhasilan tersebut, Anton tidak bisa menghilangkan perasaan tidak nyaman dengan manajer barunya. Dia waspada, lebih tepatnya curiga, manajer barunya akan mencecar untuk mencari-cari kesalahan.

Katanya: “Saya tidak bisa menghilangkan trauma dengan manajer saya sebelumnya. Saya harus sangat berhati-hati dengan setiap kata yang saya ucapkan, agar tidak dipelintir dan digunakan untuk melawan saya. Saya tidak akan berbicara hal-hal yang sulit, yang akan digunakan untuk menyerang saya.”

Trauma tempat kerja adalah masalah nyata, tetapi kurang dibahas. Trauma dapat muncul dari sejumlah perilaku yang merusak, dari pelecehan verbal atau isolasi sosial hingga rasisme dan ketidakamanan pekerjaan. 

Kalau Anda memiliki pengalaman kerja yang kelam dan ingin memulai ‘hidup baru’, ikuti dua tips berikut ini.

Menutup Masa Lalu

Anda mungkin menyimpan kebencian terhadap orang-orang yang memperlakukan Anda secara buruk. Anda mengingat-ingatnya sehingga merusak perilaku Anda sendiri. Anda menjadi sensitif, penuh curiga, dan gampang meledak. Atau sebaliknya, menjadi pendiam, tidak berani mengambil inisiatif. Perilaku semacam ini tentu saja merusak profesionalisme kerja.

Agar masa lalu tidak terus menghantui, yang perlu dilakukan adalah menutup masa lalu dan maju ke depan. Dalam kasus Anton, dia masih marah pada mantan bosnya karena tidak dihargai dan diserang. Anton menyadari bahwa dia tidak akan pernah menerima permintaan maaf dari bosnya, dia juga tidak membutuhkannya. Sebaliknya, yang diperlukan adalah dia memaafkan diri sendiri dan mengungkapkan penghargaan untuk dirinya sendiri. 

Caranya? Misalnya dia dapat menulis surat kepada dirinya yang mengakui di masa lalu telah melakukan yang terbaik dengan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang dimiliki saat itu. Bertahan selama tiga tahun di bawah bos yang kejam dan licik adalah prestasi. Bisa mendapatkan pekerjaan baru dan keluar dari ‘neraka kerja’ juga sebuah prestasi.

Untuk menutup masa lalu, kita juga perlu melakukan ritual. Tulis surat ‘selamat tinggal’ dengan masa lalu. Surat Anda simpan, untuk dibaca lagi kalau bayang-banyang masa lalu muncul. Hapus semua dokumen yang terkait pekerjaan masa lalu. Anda sedang memasuki hidup baru.

Kendalikan yang Bisa Dikendalikan

Tidak ada orang yang pantas diperlakukan tidak adil, diintimidasi, atau dilecehkan. Sayangnya, dalam kondisi semacam itu orang cenderung menyalahkan diri sendiri. Self-compassion sangat membantu untuk membangun kembali kepercayaan diri Anda.

Catat semua keberhasilan yang telah Anda raih di masa lalu. Tidak harus yang besar-besar, yang kecil-kecil juga bagus. Misalnya Anda pernah menyelesaikan proyek lebih cepat dari jadwal. Anda pernah membuat proposal yang diterima dan disetujui. Anda pernah mendapat tepuk tangan pujian saat presentasi. Buat daftarnya, dan mungkin Anda akan terkejut sendiri betapa banyaknya kesuksesan yang telah Anda raih.

Kepercayaan diri ini menjadi modal bagi Anda untuk mencoba hal-hal baru di pekerjaan baru. Semangat Anda akan tersulut.

Siapkan Mental

Walaupun bekerja pada lingkungan yang respectful, bukan berarti benar-benar bebas dari tekanan. Pengalaman masa lalu Anda, bisa menjadi modal untuk menghadapinya. Jadi, kalau Anda dapat mengambil pelajaran dari masa lampau, Anda memiliki mental yang lebih kuat.

Dalam kasus Anton yang sering diintimidasi oleh atasannya, dia dapat menyusun strategi bertahan atau melawan intimidasi. Dengan demikian, dia akan tahan banting dari segala jenis intimidasi.

Nikmati Saat-Saat Positif.

Otak selalu waspada terhadap potensi bahaya, setelah trauma. Inilah sebabnya Anda menyesuaikan diri dengan potensi penghinaan, kritik, dan ancaman bahkan setelah memulai peran baru di lingkungan kerja yang lebih aman. Anda dapat mengubah kecenderungan ini melalui latihan “menikmati hidup”. Latihan menikmati hidup adalah teknik psikologis yang mengubah momen positif yang cepat berlalu menjadi pengalaman dan keyakinan positif. Menikmati hidup telah terbukti meningkatkan perasaan bahagia, kepuasan, dan efikasi diri.

Berikut beberapa praktik yang dapat Anda coba:

  • Kenangan positif. Menghabiskan 10 menit per hari untuk merenungkan pikiran dan emosi yang terkait dengan momen yang menyenangkan.
  • Tiga hal yang baik. Tuliskan tiga peristiwa positif setiap hari dan renungkan mengapa hal itu terjadi.
  • Berbagi dengan orang lain. Menciptakan praktik sehari-hari untuk menghubungkan “hal tertinggi harian” dengan kolega atau orang yang dicintai.
  • Ucapan selamat untuk diri sendiri. Menikmati saat-saat kekuatan dan waktu sepanjang hari di mana Anda melatih kekuatan Anda.
  • Imajinasi positif. Memikirkan hari berikutnya dan membayangkan secara detail semua hal baik yang bisa terjadi.

Terakhir, pertimbangkan untuk membuka diri kepada orang lain setelah mendapatkan kepercayaan pada pekerjaan baru Anda. Setiap orang akan memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda untuk mengungkapkan diri. Namun membicarakan pengalaman masa lalu Anda dapat menjadi langkah penting dalam penyembuhan trauma.


Sumber: https://hbr.org/2022/10/how-to-recover-from-a-toxic-job
Foto oleh Yan Krukov di pexels.com

Please Login to Comment.

Need Help? Chat with us