Menghadapi Quiet Quitting

Menghadapi Quiet Quitting

Pernah mendengar istilah quiet quitting? Istilah ini muncul bersamaan dengan fenomena great resignation, yaitu pengunduran pekerja dari perusahaan secara massal. Banyak di antara mereka yang mengundurkan diri beralasan ingin menjaga keseimbangan kerja dengan kehidupan keluarga dan sosial.

Namun, dengan bayang-bayang resesi ekonomi, banyak pekerja yang berpikir ulang untuk benar-benar mengundurkan diri. Mereka membutuhkan pendapatan yang stabil di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu. Repotnya mereka terus menjunjung tinggi kebutuhan untuk bisa memiliki lebih banyak waktu di luar jam kerja. Akibatnya mereka memilih ‘keluar kerja’ secara diam-diam atau quiet quitting.

Apa itu quiet quitting?

Quiet quitting mengacu sikap pekerja untuk meninggalkan tugas-tugas di luar tugas pokok yang wajib, dan kurang peduli dengan urusan perusahaan. Quiet quitter tetap memenuhi tanggung jawab utama mereka, tetapi mereka tidak bersedia untuk terlibat dalam kegiatan ‘menjadi karyawan yang baik’.

Berikut adalah contoh fenomena quiet quitting:

  • Tidak mau pulang terlambat dan datang lebih awal.
  • Tidak bersedia menghadiri rapat yang tidak wajib.
  • Tidak mau menjawab chat atau email pekerjaan di luar jam kerja.
  • Tidak mau ngomong pekerjaan saat makan siang.
  • Tidak mau lembur, kalau tidak wajib.
  • Tidak mau lagi diajak bersusah-susah memikirkan kemajuan unitnya.

Menurut survei Gallup terhadap pekerja berusia 18 tahun ke atas yang diambil pada Juni 2022, jumlah quiet quitter mencapai 50% dari angkatan kerja AS—mungkin lebih banyak. Persentasenya jauh lebih tinggi di kalangan pekerja di bawah usia 35 tahun, lapor Gallup.

Gallup sampai pada kesimpulan itu dengan menggunakan serangkaian pertanyaan terkait dengan engagement pekerja, yang didefinisikan sebagai “keterlibatan dan antusiasme karyawan dalam pekerjaan dan tempat kerja mereka.”

Dalam survei tersebut, hanya 32% pekerja yang terlihat engaged, sementara 18% lainnya benar-benar tidak enganged, dan mereka tidak merahasiakan ketidakpuasan kerja mereka. Lima puluh persen (50%), menurut teori Gallup, dapat diklasifikasikan sebagai ‘orang yang mudah menyerah’, orang-orang yang tidak engaged dalam pekerjaan mereka, tetapi tidak menceritakannya kepada orang lain.

Bagaimana menghadapinya?

Fenomena ini belum belum begitu tampak di perusahaan-perusahaan Indonesia. Namun ada baiknya perusahaan melakukan survei engagement untuk melacak kondisinya.

Penyebabnya adalah fenomena munculnya pemahaman baru mengenai kesejahteraan. Pekerja, terutama generasi milenial dan generasi Z, mengartikan kesejahteraan tidak identik dengan uang. Bagi mereka, kesejahteraan berarti kesehatan jasmani dan rohani. Kesejahteraan berarti keseimbangan antara hidup dengan pekerjaan (worklife balance).

Sepintas, fenomena ini mungkin tidak tampak bermasalah. Lagi pula, karyawan ini tidak melepaskan diri dari tugas inti mereka—mereka hanya menolak untuk melampaui tugas utamanya. Namun bagi banyak perusahaan, pekerja yang bersedia bekerja lebih dari sekadar menjalankan tugas merupakan keunggulan kompetitif yang penting. Dalam praktik, perusahaan tidak bisa mengandalkan pekerja yang menjalankan tugas-tugas sesuai job description atau kontrak saja. Mereka didorong bekerja melampui tugas yang diperjanjikan demi kelancaran pekerjaan.

Pertanyaannya adalah:

Desain pekerjaan. Apakah pekerjaan di perusahaan menuntut pekerja untuk menguras tenaga, pikiran, dan waktu? Pertimbangkan untuk menggunakan teknologi agar pekerjaan bisa dilakukan secara lebih efisien tanpa menguras tenaga dan pikiran pekerja.

Imbal jasa. Biasanya, perusahaan mengimbangi engagement karyawan dengan berbagai manfaat (benefit) seperti kesejahteran dan karier. Problemnya, program kesejahteraan yang ditawarkan perusahaan mulai tidak menarik. Tunjangan material, seperti fasilitas kendaraan, makin kurang diminati. Akan tetapi, tunjangan yang bersifat nonmateri mulai naik daun. Beberapa perusahaan memberi tunjangan fasilitas umroh untuk orang tua pekerja. Fasilitas untuk ‘mengabdi pada orang tua’ saat ini mulai bernilai tinggi.


Sumber:
https://www.investopedia.com/what-is-quiet-quitting-6743910
https://hbr.org/2022/09/when-quiet-quitting-is-worse-than-the-real-thing

Please Login to Comment.

Need Help? Chat with us