Fenomena Great Resignation dan Generasi Rebahan

Fenomena Great Resignation dan Generasi Rebahan

Sejak awal 2021, ekonomi dunia menunjukkan gejala aneh yang disebut Great Resignation, juga dinamakan Big Quit atau Great Resuffle. Great Resignation merupakan tren ekonomi di mana karyawan secara sukarela mengundurkan diri dari pekerjaan mereka secara massal. Hal ini terjadi di Amerika Serikat, Eropa, Australia, dan Cina. Kejadian berawal pada tahun 2021 ini memang dipicu pandemi Covid-19. Namun para peneliti melihat gejalanya sudah tampak sejak 2018 dan 2019. Penyebabnya adalah gaya kerja Gen Y dan Gen Z yang sudah mendominasi pasar tenaga kerja.

Fenomena Great Resignation dan Generasi Rebahan
Daftar Isi Edisi No.5 (Sep-Okt) Tahun 20222

Survei global 2022 oleh Deloitte terhadap Gen Z dan Gen Y menemukan alasan utama mereka memilih tempat kerja adalah work life balance. Mereka menginginkan pekerjaan yang fleksibel sehingga masih bisa menjalani aktivitas di luar pekerjaan. Soal gaji besar, mereka menempatkannya pada urutan ketiga setelah peluang pembelajaran dan pengembangan.

Di Cina, Big Quit merupakan kontra terhadap doktrin kerja 996: masuk kerja jam 9 pagi, pulang jam 9 malam, bekerja 6 hari seminggu. Jack Ma merupakan penyokong utama doktrin ini. Kaum muda Cina melancarkan perlawanan dengan menebar budaya kerja rebahan alias “tang ping“. Mereka lelah harus bekerja keras sepanjang hari dengan upah pas-pasan.

Ke manakah para pekerja yang mengundurkan diri tersebut? Sebagian dari mereka memilih sebagai freelancer atau pekerja independen. Sekitar 1,57 miliar orang di angkatan kerja global adalah pekerja lepas. Di seluruh dunia, total pasar platform freelance diperkirakan bernilai US$3,39 miliar. Tahun lalu pendapatan tahunan oleh pekerja lepas AS tumbuh sebesar $100 juta, sekarang berjumlah $1,3 triliun. Di Indonesia sendiri belum ada data yang pasti. Namun perusahaan mulai merasakan hilangnya doktrin bekerja seumur hidup di satu perusahaan.

Apakah tren global ini akan masuk ke Indonesia? Dengan berkembangnya teknologi digital, tren ini diperkirakan akan segera menjadi bagian gaya kerja pekerja Indonesia. Tentu tidak pada semua segmen pekerja, tetapi terutama pada segmen pekerja berketerampilan. Sekarang para pekerja kreatif sebagian besar menjadi freelancer. Dengan bantuan platform, mereka dapat menawarkan jasanya di seluruh dunia, dengan tetap bekerja di rumah.

Majalah Manajemen pada edisi kali ini hadir untuk menawarkan gagasan dan contoh praktik mengelola pekerja independen atau freelancer. Mengelola freelancer berbeda dengan mengelola pekerja tetap. Selain membutuhkan ketegasan dan kejelasan, juga memerlukan fleksibilitas.

Apakah Anda telah memasukkan penggunaan freelancer dalam strategi perusahaan? Kami akan memperkenalkan karakter dan gaya kerja mereka, cara merekrut, mengelola dan meretensi mereka. Kami juga membeberkan cara mendapatkan dan mengikat freelancer yang langka. Tidak lupa, dalam edisi ini kami mengupas penerapan Undang-Undang Cipta Kerja untuk pekerja independen.

Semoga sajian kami bermanfaat menyambut era freelancer.

Please Login to Comment.

Need Help? Chat with us