Seni Mendengarkan

Seni Mendengarkan

Photo by Andrea Piacquadio at pexels.com

Apakah Anda seorang pendengar yang baik? Belun tentu. Anda mengira sudah menjadi pendengar yang baik karena tetap diam, menganggukkan kepala dan berkata “mm-hmm”, mengulang kembali kata demi kata. Memang itulah saran standar untuk mendengarkan lebih baik. Namun tahukah Anda bahwa kiat-kiat itu memiliki kelemahan?  Lawan bicara merasa tidak didengar atau bahkan diabaikan.

Menguasai seni mendengarkan melibatkan banyak keterampilan lain. Anda perlu berbuat lebih banyak.

Kenali tujuan mendengarkan

Langkah pertama setelah menyingkirkan semua gangguan, seperti ponsel dan laptop, adalah menyadari bahwa mendengarkan adalah interaksi dua arah yang aktif dan nonkompetitif. Mendengar aktif tidak seperti spons, yaitu sekadar menyerap informasi. Sebaliknya, pendengar yang aktif itu seperti trampolin, memberikan ketinggian, akselerasi, energi, dan penguatan pada pikiran pembicara. Akan tetapi bagaimana Anda bisa disebut sebagai pendengar trampolin? Pertama, penting untuk bertanya pada diri sendiri, bagaimana biasanya saya mendengarkan?

Mungkin Anda biasanya berorientasi pada tugas, fokus pada efisiensi; atau analitis, bertujuan untuk menganalisis masalah dari perspektif netral; atau relasional, membangun koneksi dan merespons secara emosional; atau kritis, mungkin menilai keduanya, konten dan pembicara.

Anda mungkin, karena kebiasaan, menggunakan salah satu gaya ini pada banyak situasi. Namun jika Anda kemudian bertanya pada diri sendiri, mengapa saya perlu mendengarkan sekarang, Anda mungkin menyadari bahwa mode yang berbeda atau kombinasi mode lebih cocok untuk saat ini.

Apakah anggota keluarga membutuhkan dukungan emosional, atau rekan kerja mengharapkan kritik yang jujur? Merefleksikan tujuan dari setiap percakapan, apa yang Anda inginkan, dan apa yang dibutuhkan pembicara akan membantu Anda menentukan cara terbaik untuk mendengarkan.

Pertanyaan ini juga dapat mengingatkan kita untuk mendengarkan tanpa agenda sehingga kita dapat memproses apa yang dikatakan orang lain tanpa merumuskan tanggapan terlebih dahulu.

Pada titik tertentu dalam percakapan, Anda mungkin harus membagikan perspektif Anda. Namun, untuk saat ini, dengarkan apa yang mereka katakan tanpa memikirkan apa yang akan Anda katakan selanjutnya.

Fokus pembicaraan

Pertanyaan lain untuk ditanyakan adalah, siapa yang menjadi fokus perhatian dalam percakapan? Berbagi cerita pribadi Anda dapat membangun koneksi dan validasi. Namun Anda tidak ingin mengalihkan percakapan dari pembicara dengan cara yang membuat mereka merasa diabaikan atau tidak didengar.

Berbicara dan mengajukan pertanyaan yang baik memberi sinyal kepada pembicara bahwa Anda tidak hanya mendengar apa yang mereka katakan, tetapi Anda juga memahaminya dan menginginkan lebih banyak informasi.

Perhatikan, isyarat verbal dan nonverbal juga mengungkapkan bahwa pembicara memiliki lebih banyak hal untuk dikatakan. Mereka mungkin tidak yakin tentang berbagi kerentanan, atau mereka bahkan mungkin tidak menyadari bahwa mereka mengekspresikan emosi yang belum teruji.

Mengajukan pertanyaan berdasarkan apa yang mungkin tidak terucapkan dapat menunjukkan kepada orang lain bahwa Anda mendengarkan secara mendalam. Cara ini dapat membuat pembicara merasa didukung dan menghasilkan wawasan bagi Anda berdua. Berikut adalah contoh.

Seorang karyawan memberi tahu Anda: “Saya khawatir pada presentasi yang akan saya lakukan di depan dewan direksi.”

Anda mungkin mencoba mendukung dengan meyakinkannya: “Oh, Anda akan tampil hebat. Butuh waktu bertahun-tahun sebelum saya bisa presentasi di depan direksi tanpa gemetaran.”

Respons yang ditujukan untuk menguatkan dan mendukung teman Anda, justru berdampak sebaliknya. Dia merasa diabaikan karena Anda tidak menanyakan apa yang membuatnya khawatir. Anda justru menunjukkan pengalaman sendiri.

Untuk menunjukkan bahwa Anda mendengarkan secara mendalam, Anda bisa mengatakan: “Saya juga gugup saat mulai presentasi. Apa yang membuatmu khawatir?”

Pertanyaan bagus lainnya untuk ditanyakan pada diri sendiri adalah, apakah saya menghalangi jalan saya sendiri? Terlalu sering, kita mencegah diri kita untuk dapat mendengarkan secara mendalam karena rasa tidak aman atau pengalaman perjalanan kita sendiri. Kita mungkin merasa tidak nyaman secara emosional atau khawatir tentang seberapa percaya diri dan kesiapan kita bagi orang lain. Dengan latihan, memenangkan monolog internal akan memberikan ruang untuk benar-benar mendengar apa yang dikatakan oleh orang lain.

Seni mendengarkan bagi pemimpin

Sejauh ini, kita telah berbicara tentang bagaimana setiap orang dapat menjadi pendengar yang lebih baik. Tetapi jika Anda seorang pemimpin senior, di mana lebih banyak yang dipertaruhkan, mendengarkan dengan baik adalah keterampilan yang penting.

Adalah bijaksana untuk bertanya, apakah saya mendapat informasi yang benar? Banyak pemimpin menemukan dirinya mendapat informasi semu karena karyawan takut mempertanyakan, menantang, menebak-nebak, atau mengecewakan pemimpinnya. Mereka mungkin memutar dan melunakkan informasi untuk menghindari percakapan yang sulit dengan pemimpinnya.

Para pemimpin harus mengembangkan disiplin mendengarkan secara murni untuk pemahaman tanpa penilaian, agenda, atau gangguan dan secara aktif mencari masukan dari semua tingkatan dan peringkat. Selain itu, menciptakan suasana yang mengutamakan kepercayaan daripada hierarki, yakni siapa pun dapat merasa nyaman berbagi informasi dengan Anda. Informasi baik maupun informasi buruk.


Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=aDMtx5ivKK0&t=25s
Foto oleh Yan Krukov di pexels.com

Please Login to Comment.

Need Help? Chat with us