Bekerja dengan Orang yang Kita Benci

Bekerja dengan Orang yang Kita Benci

Apa yang Anda lakukan ketika Anda bekerja dengan seseorang yang tidak sevisi dan sehati? Bisa ditebak, Anda akan menghindari orang itu, cekcok, dan mengeluhkan terhadap sifat dan perilakunya yang menyebalkan. Sebenarnya reaksi naluriah ini normal-normal saja. Bagaimana bisa akur dengan orang yang chemistry-nya tidak sama? Namun sebenarnya Anda bisa membangun hubungan yang lebih konstruktif. Anda masih bisa bekerja dengan bahagia dan produktif, meskipun didampingi orang yang menjengkelkan.

Bagaimana caranya? Bayangkan rekan kerja itu dalam pikiran Anda. Sekarang apa yang pertama kali Anda pikirkan? Jika Anda seperti kebanyakan orang, Anda mungkin memikirkan semua hal yang mengganggu Anda sehingga Anda menjadi kesal, marah, bahkan bisa jadi dendam. Cobalah tips berikut ini.

Pertama, tanyakan pada diri sendiri, bagaimana reaksi saya? Seperti yang disampaikan oleh Daniel Goleman, penulis buku Emotional intelligence, jauh berguna untuk fokus pada perilaku sendiri. Mengapa? Karena cara berpikir dan perilaku sendiri bisa kita kendalikan. Anda dapat berlatih mengurangi stres dan mengelola frustrasi untuk meminimalkan dampak perilaku orang yang menjengkelkan pada Anda.

Ahli psikolog organisasi Ben Dattner mengatakan bahwa sebenarnya sumber kemarahan tidak pada orang lain, tetapi pada diri kita sendiri. Orang lain hanya pemicu. Oleh karena itu, langkah berikutnya adalah tanyakan pada diri sendiri: “Apa sebenarnya yang mengganggu saya dan mengapa?” Apakah rekan kerja Anda bawel, ceroboh, usil, tidak pernah serius? Kemudian tanyakan lagi, mengapa Anda membencinya? Pada tahap ini, coba gali sedikit lebih dalam sumber kebencian Anda. Bisa jadi Anda pernah disakiti oleh orang yang bawel. Atau Anda pernah mengalami kecelakaan kerja karena kecerobohan Anda sendiri.

Atau mungkin, jauh di lubuk hati, Anda berharap memiliki pekerjaan dia. Kecemburuan, pergaulan negatif, dan pemicu emosi dapat menyebabkan kita salah menilai seseorang dan memperlakukannya dengan buruk. Atau mungkin Anda khawatir orang-orang tidak menyukai Anda seperti Anda tidak menyukai rekan kerja ini. Naumn bisa saja hanya karena orang lain memiliki kebiasaan yang berbeda.

Cobalah untuk memisahkan perilaku dari sifat. Identifikasi apa yang mungkin menjadi stereotip yang tidak adil. Dan kemudian sisihkan itu dan fokus pada tindakan yang mengganggu Anda. Ingat, jauh lebih mudah untuk mengubah perspektif Anda daripada meminta seseorang untuk menjadi orang seperti yang anda inginkan.

Anda juga bisa bertanya pada diri sendiri, apakah sifat dan perilaku orang tersebut berdampak buruk pada tim atau organisasi? Seringkali memiliki orang-orang yang saling tidak menyukai justru menantang atau memprovokasi kita untuk mendapatkan wawasan baru atau mendorong tim menuju kesuksesan yang lebih besar.

Kebanyakan orang tidak 100% menyebalkan. Ada sisi yang menyenangkan dan menguntungkan. Cobalah lihat sisi baik orang yang Anda benci. Apabila Anda jujur, pasti menemukannya, walaupun kecil. Mungkin dia memiliki selera humor yang tinggi, teliti, pemberani, dan sebagainya. Perhatikan kualitas tersebut dan manfaatkan untuk kepentingan tim. Dengan demikian, Anda bisa melihat orang lain secara lebih utuh.

Kedua, bicarakan masalahnya dengan yang bersangkutan. Cara ini harus digunakan dengan hati-hati, dengan melihat rekan kerja tersebut apakah cukup terbuka. Kalau Anda nilai rekan tersebut bisa diajak bicara, sampaikan dengan baik-baik. Jangan sampai menyinggung perasaan. Anda bisa mengajak bicara baik-baik, setelah menurunkan rasa benci. Kalau belum, kata dan bahasa tubuh Anda akan tampak sedang menyerang. Kalau itu terjadi, Anda akan gagal membangun saling pengertian, justru saling benci yang semakin memuncak.

Sampaikan semua keluhan secara tuntas. Dari pembicaraan tersebut akan timbul saling pemahaman yang akan menciptakan keharomnisan. Bisa jadi, Anda menemukan rekan kerja Anda berperilaku buruk karena tidak sadar. Bisa juga terjadi, Anda menemukan ternyata Anda sendiri yang perilakunya tidak pantas.

Ketiga, abaikan. Anda bisa mengabaikan saja perilaku rekan kerja yang brengsek dengan dua catatan. Satu, Anda bisa menjalaninya. Kedua, tidak merusak hubungan dalam tim dan mengganggu kinerja tim. Tentu saja, Anda bisa menerima perilaku buruk rekan kerja kalau Anda telah melatih diri mengelola stres dan frustasi. Demikian pula, rekan kerja satu tim bisa menoleransi perilaku tersebut.

Sebagai catatan akhir, ketiga tips tadi bisa diterapkan untuk perilaku yang tidak menyerang harga diri Anda dan etika. Apabila perilaku menjengkelkan tadi merendahkan Anda atau memfitnah, Anda harus melawannya. Tentu saja harus berkoordinasi dengan atasan dan bagian SDM.  

Selamat mencoba dan semoga bahagia dalam kerja.


Tulisan ini diinspirasi dari Video: How to work with someone you can’t stand: The Harvard Business Review Guide.  https://www.youtube.com/watch?v=kGMGjXQOYxs&t=71s
Image by Yan Krukov at pexels.com

Please Login to Comment.

Need Help? Chat with us