Menghadapi Perilaku Agresif-Pasif

Menghadapi Perilaku Agresif-Pasif

Siapa pun orangnya, pasti akan kesal pada orang yang sudah berjanji, tetapi tidak mau menepatinya.

“Laporannya dikirim lewat email besok pagi jam 9 ya..”

“Siap.”

Pukul 9.00 Anda membuka email, laporan belum ada. Jam 10.00, dibuka lagi, kirimannya juga belum ada. Pukul 13.00, emailnya belum masuk. Padahal laporan itu harus diserahkan ke atasan Anda pukul 14.00. Tentu Anda frustasi.

Kasus lain, dalam rapat, rekan kerja melontarkan pandangan yang dingin ke Anda. Ketika ditanya: ”Ada masalah yang ingin disampaikan?” Dia menjawab: ”Tidak”.

Tidak menepati janji dan pandangan dingin dalam konteks di atas merupakan contoh dari perilaku agresif-pasif. Agresif-pasif menggambarkan perilaku dan tipe kepribadian yang dicirikan dengan menggunakan perlawanan, penghindaran, dan penipuan untuk mencegah konfrontasi dan ekspresi perasaan yang terbuka. Agresif pasif merupakan perilaku maladaptif cara seseorang menunjukkan kemarahan, rasa tidak aman, ketidaksetujuan, dan emosi negatif lainnya melalui cara tidak langsung.

Perilaku semacam ini ada di hampir setiap tempat kerja. Rekan kerja yang hebat dan sangat baik pun, terkadang bertindak agresif-pasif. Bahkan, dalam kadar tertentu, Anda terkadang berperilaku agresif-pasif pula.

Perilaku agresif-pasif tentu membuat Anda frustasi. Interaksi dan komunikasi tidak produktif. Pada gilirannya dapat merusak produktivitas tim. Kabar baiknya adalah, orang yang mungkin Anda sebut ‘brengsek” ini tidaklah sungguh-sungguh berniat jahat. Dia tidak ingin menyabotase proyek Anda. Dia tidak ingin menipu Anda. Bahkan dia mungkin tidak menyadari kalau dirinya bertindak agresif-pasif.

Para psikolog menyebut paling tidak ada dua alasan kita melakukan agresif-pasif. Pertama, dia tidak ingin menyinggung orang yang diberi pesan. Rekan kerja yang melempar pandangan dingin di rapat mungkin ingin mengatakan bahwa ide Anda sangat buruk. Namun dia tidak bisa mengucapkannya, sehingga mengekspresikannya dengan pandangan mata yang dingin.

Alasan kedua adalah menghindari konflik. Orang yang memiliki mental lemah, akan mengiyakan pendapat orang lain yang bertentangan dengan pendapat dan perasaannya. Dalam contoh tidak menepati janji mengirimkan laporan di atas, bisa jadi rekan kerja Anda ingin mengatakan permintaannya tidak masuk akal. Dia tidak sanggup kalau mengirim pukul 9.00. Sanggupnya pukul 15.00. Namun, karena takut konflik, dia mengiyakan dan mengirimkan laporannya pukul 15.00.

Nah sekarang, bagaimana kita menghadapi perilaku agresif-pasif? Berikut tiga tips untuk menghadapi mereka agar interaksi tetap produktif

Hindari menyebutnya agresif-pasif (misalnya sebagai ‘tidak terus terang’, ‘tidak jujur’, ‘sembunyi-sembunyi’)

Anda tidak perlu menyebutnya ‘tidak komunikatif’, ‘tidak terus terang’, ‘tidak terbuka’ dan sebagainya. Dia tidak bermaksud untuk melawan Anda. Kalau Anda melabelinya dengan berbagai sebutan negatif, sang agresif-pasif akan marah dan defensif.

Sebaliknya, cobalah untuk memahami apa yang terjadi dengannya. Cukup katakan fakta yang Anda lihat dan rasakan.

“Anda kemarin mengatakan mau mengirim laporan jam 9, sekarang sudah jam 12.”

“Saya merasa cara Anda memandang saya seperti ada ketidaksetujuan yang akan disampaikan.”

Fokus pada pesan sebenarnya yang ingin disampaikan

Saat mereka bersikap agresif-pasif, sebenarnya mereka sedang mengomunikasikan sesuatu. Cobalah luangkan waktu untuk memikirkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Pikirkan ide yang mendasari perilakunya. Apa yang mereka pedulikan? Apa yang mereka coba katakan pada Anda?

Setelah menemukan dugaan, Anda bisa tanyakan langsung dengan hormat dan tidak menghakimi. Tujuan Anda adalah membantu mereka mengekspresikan diri sehingga Anda dapat berkomunikasi secara lebih produktif.

Fokus pada tujuan komunikasi

Sering kali pesan agresif-pasif disampaikan melalui media, seperti email atau pesan teks. Anda jangan terpancing untuk segera membalasnya. Misalnya rekan Anda mengisim pesan WhatsApp: “Laporan sudah saya kirim tiga hari yang lalu. Coba cek email Anda.” Padahal, Anda setiap pagi sebelum mulai kerja secara rutin membuka email. Anda jangan terpancing untuk membalas: “Saya tiap pagi buka email, tapi tidak ada email dari Anda yang masuk.”

Bagaimana menanggapinya? Lakukan panggilan telepon dan minta untuk mengirim email kembali. Anda tidak usah mempermasalahkan pernyataan yang mereka kirim melalui pesan teks. Anda hanya butuh laporan tersebut. Fokus pada tujuan komunikasi.

Semoga tiga tips ini bermanfaat. Intinya, perjelas pesan si agresif-pasif, kemudian fokuskan pada tujuan komunikasi Anda. Selamat mencoba.


image by istockphoto.com

Please Login to Comment.

Need Help? Chat with us