Apakah Anda Benar-Benar Memiliki Growth Mindset ?

Apakah Anda Benar-Benar Memiliki Growth Mindset ?

Saat ini growth mindset (pola pikir pertumbuhan) sudah menjadi buzzword, kata-kata umum yang maknanya membingungkan. Namun, secara ringkas, hasil penelitian Carol Dweck mengenai pola pikir pertumbuhan adalah sebagai berikut. Seseorang yang meyakini bahwa bakat bisa dikembangkan (melalui kerja keras, strategi yang baik, dan masukan dari orang lain) disebut memiliki pola pikir pertumbuhan. Orang-orang ini cenderung memiliki prestasi lebih tinggi dibanding mereka yang memiliki fixed mindset (pola pikir tetap). Orang yang memiliki pola pikir tetap meyakini bahwa bakat adalah hadiah bawaan dari lahir.

Karena populernya, demikian menurut Carol Dweck, terdapat salah pemahaman terhadap konsep growth mindset. Berikut adalah 3 miskonsepsi itu,

1. Saya memiliki pola pikir pertumbuhan, dan akan begitu selamanya.

Orang mencampuradukkan pengertian pola pikir pertumbuhan dengan bersikap fleksibel atau berpikiran terbuka atau berpikiran positif. Kebanyakan orang meyakini bahwa ketiga kualitas tersebut selalu melekat dalam diri mereka. Inilah yang disebut sebagai pola pikir pertumbuhan yang salah.

Sebenarnya setiap orang memiliki pola pikir tetap dan pola pikir pertumbuhan. Tidak ada orang yang memiliki pola pikir pertumbuhan murni, demikian pula, sebaliknya, tidak ada pola pikir tetap yang murni. Setiap orang memiliki campuran keduanya. Dan, campuran itu berkembang, berdasarkan pengalaman hidup yang dijalani dan cara memaknainya.

Prestasi seseorang, tergantung pada pola pikir mana yang mendominasi. Ketika pola pikir pertumbuhan mendominasi, seseorang akan bekerja keras belajar dari kehidupan untuk mencapai tujuan dan keinginannya. Ketika pola pikir tetap mendominasi, orang cenderung terlalu percaya diri dengan bakat yang dimilikinya dan enggan untuk belajar.

2. Pola pikir pertumbuhan hanya terkait dengan memuji dan menghargai upaya.

Pemahaman ini keliru, baik penerapannya dalam pendidikan murid di sekolah ataupun pengembangan karyawan di tempat kerja. Baik di tempat kerja maupun di sekolah, hasil sangatlah penting. Upaya apa pun yang tidak produktif, bukan hal yang baik. Penghargaan dan pujian tidak seharusnya diberikan pada upaya, tetapi pada pembelajaran dan kemajuan. Dan, harus ditekankan pada hasilnya.

Upaya keras yang sia-sia, tidak boleh didorong dengan pujian, apalagi perhargaan. Namun, kemampuan belajar dari yang telah dijalankan dan kemajuan sebagai hasil pembelajaran tersebut menjadi penting. Berdasarkan penelitian Carol Dweck, hasil akhir yang baik selalu mengikuti proses yang baik. Hasil tidak pernah mengkhianati proses.

3. Cukup dengan memahami pola pikir pertumbuhan, hasil baik akan datang dengan sendirinya.

Salah. Mengetahui berbeda dengan menjalankan. Memiliki pola pikir pertumbuhan berarti berani melakukan sesuatu yang baru, belajar dari kesalahan, dan bekerja keras untuk terus menjadi baik. Ini mudah diomongkan, tetapi sulit dijalankan. Misalnya saja, ketika melakukan kesalahan dan dikritik oleh orang lain, kita secara otomatis akan defensif. Sikap defensif merupakan cermin dari fixed mindset yang sangat sulit dihilangkan.Meskipun kritik dari orang lain menyakitkan dan belum tentu benar, menangkap, menganalisis, dan merenungkan kritik orang lain akan menghasilkan pembelajaran yang baik.

Nah, apakah Anda memiliki growth mindset? Coba renungkan dengan menjawab pertanyaan ini:

Apakah Anda nyaman dengan kondisi saat ini dan takut untuk berubah menuju sesuatu yang baru?

Apakah Anda berani mengoreksi kesalahan sendiri, melihat kelemahan sendiri, dan sungguh-sungguh memperbaikinya? Anda sudah tahukan jawabannya?


Catatan: Tulisan ini diinspirasi dari buku Mindset: The new psychology of success karya Carrol S. Dweck.
Photo by rawpixel.com at freepik.com

Please Login to Comment.

Need Help? Chat with us