Urgensi Implementasi Ekonomi Sirkular

Urgensi Implementasi Ekonomi Sirkular

Gelombang panas yang melanda Eropa dalam satu bulan terakhir, merupakan wujud nyata ancaman perubahan iklim. Peningkatan suhu bumi juga telah meningkatkan permukaan air laut dan merendam beberapa wilayah tepi pantai. Parahnya sebagian besar kota di dunia berada dekat laut. Masuknya air laut ke daratan akan secara langsung merusak pusat-pusat perekonomian tersebut. Para ahli lingkungan menyebut pembangunan yang eksploitatif sebagai pangkal segala kerusakan. Karena ancamannya begitu masif, semua pemangku kepentingan harus terlibat untuk beradaptasi dan memitigasi perubahan tersebut, termasuk pera pelaku dan profesional bisnis.

Urgensi Implementasi Ekonomi Sirkular
Daftar Isi Edisi Juli – AgustusI 2022

Untuk menjawab permasalah tersebut, para ekonom telah mengembangkan suatu model berkelanjutan yang dikenal sebagai ekonomi sirkular. Dalam model ini, kegiatan ekonomi diharuskan menggunakan seminimal mungkin material orisinal (virgin material), tidak ada kebocoran waste selama proses produksi maupun konsumsi, dan mendaur ulang  limbah pasca konsumsi menjadi material bagi proses produksi selanjutnya.

Mengingat ancaman perubahan iklim yang semakin hari semakin nyata, modal ekonomi sirkular harus segera diarusutamakan. Tantangannya bagi profesional dan pelaku bisnis adalah bagimana agar bisnis dapat menjadi bagian integral dari model ekonomi berkelanjutan ini. Tentu saja, pemimpin bisnis perlu membangun model bisnis sirkular, yaitu suatu model bisnis dapat menghasilkan laba besar, tetapi ramah lingkungan.

Pada edisi khusus Ekonomi Sirkular ini, kami menghadirkan 7 ahli dan praktisi ekonomi sirkular untuk membantu pembaca memahami apa itu ekonomi sirkular, peluang dan hambatan penerapannya. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, misalnya,  memberi gambaran mengenai ekonomi sirkuler, berikut faktor yang mendorong dan menghambatnya. Kami juga menghadirkan tulisan dari Andi Ilham Said dari PPM School of Management dan Rizal Algamar dari Tropical Forest Alliance – World Economic Forum yang menyampaikan konsel ekonomi sirkular dan pembangunan hijau.

Sementara itu dari praktisi dan pelaku bisnis kami menyajikan tulisan Shinta Widjaja Kamdani dari Kadin Indonesia, Triyono Prijosoesilo dari Coca cola Indonesia, Yumi Nishikawa dari WWF, serta Temmy Satya Permana  dari Kementrian Koperasi Dan UKM. Para praktisi ini membuktikan bahwa model ekonomi sirkular sudah mulai dijalankan di Indonesia. Semoga melalui edisi khusus ini, pembaca dapat melihat peluang bisnis dalam ekonomi sirkular. Pelaku dan profesional bisnis tidak melihat ESG (enviromental, social, governance) sebagai kewajiban semata, tetapi juga peluang bisnis.

Please Login to Comment.

Need Help? Chat with us