Seni Mengakui Kegagalan

Seni Mengakui Kegagalan

Dalam bisnis, sangat sulit bagi kita untuk bisa menerima kesalahan. Kita takut berbuat salah apalagi mengakuinya. Mengakui kesalahan ditafsirkan sebagai tanda kelemahan.

Namun, bisnis dan kepemimpinan adalah soal hubungan. Dan dalam hubungan apa pun, selalu ada yang tidak beres, selalu ada kesalahan, selalu ada naik dan turun. Kekuatan suatu hubungan tidak terletak pada kesempurnaannya, tetapi seberapa tangguh menghadapi kegagalan yang tidak bisa dielakkan.

Dengan adanya media sosial yang dapat mewartakan semua hal secara real time, Anda tidak memiliki tempat untuk menyembunyikan kegagalan. Oleh karena itu, lebih baik Anda mengakui kalau ada sesuatu yang tidak beres dan mengungkapkannya sejujur-jujurnya dan setransparan mungkin.

Itulah yang dilakukan oleh CEO Domino’s Pizza, Patrick Doyle, melalui iklan televisi nasional Amerika Serikat. Domino dikenal dalam delivery—menyampaikan pizza ke pintu pelanggan dalam 30 menit. Akan tetapi, pizzanya biasa-biasa saja. Langkah berani Domino’s adalah mengakui bahwa pizzanya jauh dari istimewa. Dalam iklan, perusahaan mengutip ucapan pelanggan “Domino’s Pizza terasa gosong” dan “Microwave jauh lebih hebat dari pizzanya.” Seorang pelanggan bahkan menyarankan, “Menurut saya, Domino’s Pizza harus mulai dari awal lagi.”

Itulah yang dilakukan Domino’s. Perusahaan mengonfigurasi ulang produk inti, menguji kombinasi puluhan keju, 15 saus, dan hampir 50 kulit bumbu untuk menemukan satu komposisi yang memuaskan pelanggan. Dalam iklan, Domino’s mengakui pizza-nya mengerikan, tetapi sekarang telah dirancang ulang. Sudah waktunya pelanggan untuk mencoba kembali.

Iklan tersebut benar-benar berhasil menarik perhatian pemirsa. Pelanggan berbondong-bondong mencoba versi baru Domino’s.

Bagaimana Meraih Sukses dari Kegagalan?

Berurusan dengan kegagalan adalah bagian dari tugas pemimpin. Daripada mengeluarkan energi yang sangat besar untuk menghindarinya, lebih baik membangun ketangguhan untuk menghadapi kegagalan yang tak terelakkan. Berikut adalah tiga langkah yang bisa Anda ambil untuk membangun ketangguhan tersebut.

1. Ciptakan budaya berbagi kisah sukses dan gagal.

Sukses dan gagal, sama-sama memberi pelajaran. Banyak pemimpin yang senang berbagi kisah sukses, tetapi enggan berbagi kisah gagal.

Keberhasilan biasanya dirayakan, kemudian kisah suksesnya diberitakan berulang-ulang. Memang kisah sukses enak didengarkan. Keberhasilan selalu membawa semangat. Bahkan tidak sedikit pemimpin yang mengabarkan kesuksesan semu untuk membangkitkan semangat. Kelemahan dari berbagi kisah sukses adalah tidak fokus pada faktor keberhasilannya, hanya memberi perhatian pada perayaan dan kebanggaan.

Sebaliknya, sangat sedikit orang yang bersedia berbagi kisah gagal. Gagal ibarat aib yang harus ditutup rapat-rapat. Padahal, di balik kegagalan itu, ada pelajaran yang sangat penting untuk lebih maju. Tentu saja berbagi kegagalan bukanlah sekadar curhat, tetapi menginformasikan fakta dan kemudian menganalisisnya. Dari sini, semua orang bisa mengambil hikmah, terutama orang yang mengalami kegagalan tersebut.

2. Beri imbalan orang yang berani mengambil risiko.

Banyak sekali pemimpin yang menasihati: “Kita harus berani mengambil lebih banyak risiko!” Sayangnya ucapan ini tidak dibuktikan dalam praktik. Tidak sedikit pemimpin yang menghukum anak buahnya yang gagal karena mengambil risiko terlalu besar. Alasannya macam-macam: kurang perhitungan, ceroboh, terburu-buru, dan sebagainya.

Dengan tindakan yang tidak selaras dengan ucapan ini, orang menjadi bertindak kelewat hati-hati. Dampak lanjutannya adalah banyak peluang yang terlewatkan. Organisasi tidak bergerak cepat.

Sudah selayaknya pemimpin berani memberi hadiah kepada orang yang mengambil risiko. Tentu saja risiko ini harus diperhitungkan dan dikelola dengan baik. Hasilnya, sukses ataupun gagal, pengambil risiko harus tetap diberi imbalan dan penghargaan.

3. Tetapkan batas.

Meskipun Anda selaku pemimpin berani mengakui kesalahan, bukan berarti harus mengungkapkan semuanya. Anda tidak perlu membuka aib apalagi rahasia perusahaan. Cukup akui Anda gagal, penyebab gagal secara umum, dan tindakan perbaikan yang sudah dan akan dilakukan. Pengakuan kegagalan ini akan membangkitkan kepercayaan dari pemangku kepentingan. Namun, yang lebih penting, pengakuan kegagalan tersebut memicu diri Anda untuk menjadi lebih baik.

Kegagalan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan profesional kita. Beberapa kegagalan tersebut memang tidak bisa dielakkan. Dengan mengakui kegagalan tersebut, secara tulus dan objektif mengungkapkan sebabnya, serta menceritakan tindakan perbaikan yang telah dilakukan, akan meningkatkan kepercayaan dari pemangku kepentingan. Pada saat yang sama, Anda memiliki semangat untuk menjadi lebih baik.


Catatan: Tulisan ini dikembangkan dari karya Charlene Liberjudul “The art of admitting failure” yang dimuat dalam HBR.orgMarch 28, 2011.
Photo by shvets production at pexels.com

Please Login to Comment.

Need Help? Chat with us