Memperluas Definisi Kegagalan

Memperluas Definisi Kegagalan

Sampai saat ini kita merasa telah memahami betul bentuk kegagalan: usulan ditolak, pidato tidak mendapat tepuk tangan, produk baru tidak diterima pasar, turun pangkat, prestasi di bawah target, dan sebagainya. Pendek kata, kegagalan adalah harapan yang tidak bisa dipenuhi. Takdir yang sangat menyakitkan.

Kita berpikir bahwa kegagalan adalah kebalikan dari kesuksesan. Itulah sebabnya kita menghindarinya mati-matian. Dalam organisasi, kita membuat manajemen risiko berlapis-lapis. Secara pribadi, kita membuat ragam skenario untuk lolos dari kegagalan.

Ketakutan itulah yang membuat kita menyempitkan daftar gagal. Apa pun tujuan, keinginan, misi, dan rencana yang tidak tercapai kita kategorikan sebagai gagal. Namun masalahnya adalah bagaimana dengan sesuatu yang luput dari perhatian kita, tetapi sebenarnya sangat penting? Aspek-aspek penting tersebut, karena luput dari perhatian, walaupun tidak sukses tidak kita kategorikan sebagai gagal.

Definisi gagal sangatlah penting, karena kegagalan akan menciptakan urgensi untuk segera menangani dan memperbaiki. Kegagalan tidak bisa dibiarkan begitu saja, tetapi membutuhkan respons cepat. Ini berbeda dengan keberhasilan yang harus dipertahankan sebagai status quo. Jadi kalau Anda ingin melakukan perbaikan atau peningkatan suatu aspek, definisikan sebagai gagal dalam aspek tersebut.

Mengingat kuatnya kecenderungan untuk bias pada kegagalan, sepertinya tidak ada jalan lain untuk secara agresif meredefinisi konsep gagal, dengan memasukkan lebih banyak hasil dalam kategori gagal.

Sebagai contoh, setiap hari ada antrean panjang (kadang seeorang harus menunggu sampai 10 menit) untuk menggunakan kamar kecil perempuan di Grand Central di New York. Antrean panjang ini adalah kegagalan. Ini adalah kegagalan desain, hubungan gender, dan sumber daya. Akan tetapi, karena antrean panjang tersebut tidak didefiniskan sebagai kegagalan, maka masalah ini tidak diperhatikan. Kondisinya dianggap baik-baik saja.

Contoh lain, setiap hari, ribuan orang menelepon bagian business support karena mereka tidak mengerti cara menggunakan salah satu produk. Ini adalah sebuah kegagalan. Kegagalan ini lebih buruk dibanding jika pelanggan tidak membeli produk Anda sama sekali. Situasi tanpa penjualan merupakan alarm adanya masalah, tetapi telepon berdering setiap saat yang terasa seperti interaksi normal, bukanlah dianggap sebuah kegagalan. Dan ini sangat berbahaya.

Jika Anda peduli dengan perusahaan, pelanggan, dan makna nilai, Anda harusnya cukup peduli untuk memeriksa kembali definisi kegagalan. Berikut adalah beberapa jenis kegagalan yang perlu dipertimbangkan untuk ditambahkan ke kategori gagal dalam hidup Anda:

Kegagalan desain. Jika produk atau jasa Anda salah desain, orang tidak akan memahami itu jasa atau produk apa, tidak membelinya, atau membahayakan diri mereka sendiri saat menggunakannya. Dan ini berarti Anda telah gagal.

Kegagalan kesempatan. Jika aset Anda tidak digunakan dengan baik, diabaikan, atau membusuk, seolah-olah kamu menghancurkannya, Anda telah gagal.

Kegagalan kepercayaan. Jika Anda merusak niat baik dan rasa hormat pemangku kepentingan dengan mengambil jalan pintas demi keuntungan jangka pendek, Anda telah gagal.

Kegagalan kemauan. Jika Anda dengan cepat menghentikan upaya untuk mengejar tujuan hanya karena ada halangan, berarti Anda telah gagal.

Kegagalan prioritas. Jika Anda memilih untuk fokus pada pekerjaan yang tidak menciptakan nilai, Anda telah gagal. Coba cek lagi prioritas kerja Anda.

Kegagalan untuk berhenti. Jika organisasi Anda tetap bersikukuh dengan ide, fasilitas, atau tim yang biasa-biasa saja karena kurang nyali untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik, Anda telah gagal.

Kegagalan menghormati. Jika Anda sukses tanpa kejujuran dan rasa hormat pada orang lain, sebenarnya Anda telah gagal. Dan, tentu saja, kegagalan paling parah adalah ketika Anda gagal melihat kegagalan sebagai sebuah kegagalan.


Catatan: Tulisan ini diinspirasi oleh karya Set Godin “Redefining your failure” yang dimuat pada Harvard Business Review, September 2010.
Photo by Gerd Altmann at pixabay.com

Please Login to Comment.

Need Help? Chat with us