Menemukan Makna dalam Pekerjaan

Menemukan Makna dalam Pekerjaan

Apakah Anda berbahagia dengan pekerjaan Anda saat ini? Kalau ya, bersyukurlah. Tidak banyak orang yang merasa bahagia dengan pekerjaannya. Penelitian terbaru oleh McKinsey menemukan bahwa 50% kaum milenial di Amerika Serikat tidak mendapat pekerjaan yang sesuai dengan panggilan jiwanya. Sebagai akibatnya, banyak dari mereka yang merasa resah, frustasi, dan sama sekali tidak puas dengan pekerjaan dan karier yang sebenarnya bagus dan mapan. Jadi, kalau Anda sudah bahagia dengan pekerjaan Anda saat ini, syukuri saja. Tidak perlu Anda menganalisis penyebab kebahagiaan tersebut.

Sebenarnya apa sih, sumber dari pekerjaan yang memberi kebahagiaan? Anda bisa menjawab hobi, bakat, atau kebiasaan. Jawaban Anda benar, tetapi kurang tepat. Pekerjaan yang memberi kebahagiaan adalah pekerjaan yang dapat memberi makna hidup. Makna hidup diperoleh dari panggilan jiwa.  Seperti seorang CEO yang memilih menjadi trainer, karena panggilan jiwanya adalah pendidik. Tidak sedikit anak muda yang memilih menjadi sukarelawan di LSM (non government organization/NGO) karena dorongan untuk membantu kaum yang tidak beruntung.

Para psikolog sepakat bahwa inti dari panggilan jiwa seseorang adalah bermanfaat bagi orang lain sebagai wujud pengabdian kepada sang Pencipta. Pekerjaan yang selaras dengan panggilan jiwa akan memberi makna bagi pekerja tersebut. Orang yang bisa mendapatkan makna pekerjaan akan memperoleh kepuasan dan kebahagiaan kerja. Pekerjaan yang bermakna juga bermanfaat bagi organisasi karena membuat pekerja bekerja secara produktif dan berintegritas.

Lantasbagaimana kalau pekerjaan yang sedang Anda jalani sekarang tidak sejalan dengan panggilan jiwa? Tersedia dua pilihan yang dapat Anda jalani, yaitu pindah bidang kerja atau mendapatkan makna dari pekerjaan yang sedang dijalani.

Pertama, Anda bisa pindah bidang pekerjaan. Untuk mengambil pilihan ini, Anda bukan hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga persiapan. Tentu kita sering mendengar kisah seorang yang meninggalkan bidang pekerjaan yang mapan ke pekerjaan baru demi mengejar kebahagiaan ini. Ada seorang CEO banting setir menjadi trainer karena dalam dirinya terdapat jiwa pendidik. Ada juga orang muda yang sudah bergaji sangat besar di suatu perusahaan besar, putar balik merintis usaha dari nol karena ada jiwa wirausaha dalam dirinya.

Strategi kedua adalah mengambil makna dari pekerjaan yang tidak selaras dengan panggilan jiwa. Apakah orang yang mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan panggilan jiwa termasuk gagal? Menurut Emily Esfahani Smith penulis The power of meaning: finding fulfillment in a world

obsessed with happiness, orang yang tidak bahagia di pekerjaannya bukanlah orang yang gagal mendapatkan pekerjaan yang selaras dengan panggilan jiwa. Kegagalannya terletak pada ketidakmampuan membangun kesadaran bahwa pekerjaan yang tidak sesuai dengan panggilan jiwa pun bisa memberi makna yang tinggi dalam kehidupannya.

Di Amerika Serikat, pekerjaan yang dianggap kurang memberi makna adalah tenaga penjual retail, kasir, pembuat/penyaji makanan, dan pegawai kantor pemerintah. Namun sebenarnya pekerjaan-pekerjaan tersebut memberi makna yang sama dengan profesi, seperti pendeta, guru, dan dokter: membantu orang lain. Adam Grant, seorang profesor di Wharton School di University of Pennsylvania, mengatakan bahwa kalau kita dapat melihat bekerja sebagai bentuk memberi atau membantu orang lain maka secara konsisten pekerjaan yang dijalankannya akan penuh makna.

Dengan demikian, sebenarnya kita bisa menemukan makna pada hampir semua peran dalam organisasi. Lagi pula, sebagian besar organisasi menciptakan produk atau jasa untuk memenuhi kebutuhan orang. Semua karyawan dapat berkontribusi dengan caranya sendiri. Kuncinya adalah menyadari bahwa pekerjaan yang dilakukan memberi manfaat kepada orang lain.  

Untuk mengetahui manfaat dari pekerjaan kita adalah berhubungan langsung dengan pelanggan. Pelanggan ini bisa internal atau eksternal. Kalau Anda seorang koki, cobalah Anda bertanya kepada pelanggan restoran tempat Anda bekerja, apakah masakannya enak. Kalau Anda seorang trainer,  cobalah bertanya kepada trainee untuk mengetahui apakah keterampilan yang Anda ajarkan bisa diterapkan di tempat kerja mereka.

Cara berikutnya adalah memahami tujuan atau visi dan misi organisasi tempat Anda bekerja. Apabila Anda bekerja pada perusahaan hiburan, misi perusahaan adalah membuat bahagia orang lain. Anda merupakan bagian dari misi membuat orang bahagia. Bukankan membuat orang bahagia pekerjaan mulia? Apabila Anda bekerja sebagai petugas administrasi rumah sakit, Anda merupakan bagian dari misi membuat orang sehat. Bukankah menyembuhkan orang dari sakit termasuk pekerjaan mulia?

Cara ketiga adalah dengan mengadopsi pola pikir bahwa bekerja merupakan cara untuk membantu orang-orang yang kita cintai. Jochen Menges, seorang profesor dari WHU–Otto Beisheim School of Management mengadakan penelitian produktivitas kerja terhadap pekerja perempuan percetakan kupon di Meksiko. Peneliti ini menemukan pekerja yang melihat pekerjaannya sebagai tugas mulia untuk menafkahi keluarganya, memiliki produktivitas yang lebih tinggi dibanding mereka yang memiliki motivasi lain. Menghidupi keluarga merupakan pekerjaan mulia. Bagi Anda yang saat ini merasa menderita dalam pekerjaan, coba lihat lagi apakah pekerjaan yang Anda lakoni sesuai dengan panggilan jiwa. Kalau tidak, cobalah berganti bidang pekerjaan yang bisa memberi makna hidup. Namun kalau belum berani atau tidak cukup siap, carilah makna dalam pekerjaan tersebut. Pekerjaan yang bermakna akan memberi kebahagiaan dalam hidup Anda.


Catatan: Tulisan ini diinspirasi oleh karya Emily Esfahani Smith, “How to find meaning in a job that isnt your “true calling” yang dimuat dalam HBR.org. https://hbr.org/2017/08/how-to-find-meaning-in-a-job-that-isnt-your-true-calling.
Photo by Olia Danilevich at pexels.com

Please Login to Comment.

Need Help? Chat with us