Bermurah Hati di Tempat Kerja

Bermurah Hati di Tempat Kerja

Cobalah Anda bertanya kepada pakar manajemen, “Apa keterampilan paling penting bagi keberhasilan karier seseorang?” Kemungkinan besar jawaban yang diperoleh tidak jauh dari “visi, kepemimpinan, dorongan, ambisi, atau kecerdasan”. Namun sebenarnya ada yang sangat penting, tetapi tidak dilirik oleh pakar manajemen, yaitu sikap murah hati (generous).

Semua orang tahu bahwa murah hati sangatlah penting, tetapi tidak dianggap sebagai pendorong utama keberhasilan. Dalam hal karier, orang umumnya memandang sikap murah hati sebagai ‘penambah’ dalam resep keberhasilan orang. Namun pandangan itu keliru. Murah hati merupakan puncak dari pengejawantahan kepemimpinan yang baik. Kepemimpinan yang berhasil di mana pun selalu berbasis welas asih dan murah hati. Pemimpin dan manajer yang murah hati melahirkan kepercayaan, rasa hormat, dan niat baik dari rekan kerja dan karyawan mereka. Tidak percaya? Cobalah untuk menerapkannya.

Orang yang murah hati siap membantu orang lain dengan memberi informasi, mengakui dan menghargai kontribusi orang lain, dan bersemangat untuk berbagai keahlian. Berikut adalah delapan cara konkret untuk menjadi murah hati dalam bekerja.

1. Bantu atasan Anda untuk sukses.

Membantu atasan untuk sukses memang lebih mudah untuk diucapkan daripada dilakukan. Namun, kalau Anda bisa menjalankannya dengan baik, karier Anda akan meningkat seiring dengan kemajuan karier atasan Anda. Caranya, letakkan program priritas atasan sebagai program prioritas Anda. Tentu saja program yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Anda. Dalam rapat-rapat, buat dia tampak hebat. Sukseskan semua proyek yang menjadi tanggung jawab atasan.

Perlu dicatat, membuat sukses atasan tampak hebat bukan berarti menjilat. Anda menghargai atasan Anda secara tulus. Membantu keberhasilan atasan sesuai dengan tanggung jawab. Percayalah, kalau atasan Anda sukses, Anda akan ikut sukses.

2. Ambil langkah lebih maju.

Ambil inisiatif dan melangkah ke depan lebih cepat. Kalau Anda sudah menyelesaikan suatu pekerjaan, tanpa tunggu perintah, lakukan pekerjaan berikutnya. Berikan informasi yang perlu ke atasan, tanpa menunggu diminta. Bertanyalah kepada atasan dan diskusikan dengan rekan kerja mengenai tugas yang belum jelas. Antisipasi segala risiko dan siapkan mitigasinya. Pendek kata, jadilah proaktif.

3. Ungkapkan informasi yang diperlukan atasan, rekan kerja, dan bawahan.

Apabila Anda memiliki informasi yang penting untuk diketahui orang lain, sampaikan! Jangan menimbun informasi, karena Anda menjadi tampak haus kekuasaan dan licik. Anda bisa berbagi informasi melalui berbagai saluran, apakah rapat, e-mail, postingan di website, di grup WA, dan sebagainya.

Penting untuk diingat, sebelum berbagi informasi perhatikan hal berikut:

  • Pastikan informasi itu benar
  • Pastikan informasi itu diperlukan oleh audiens yang dituju.
  • Pastikan disampaikan pada waktu yang tepat.
  • Pastikan disampaikan melalui cara yang tepat.

4. Akui dan hargai kontribusi orang lain.

Mengakui keberhasilan orang lain secara tulus bukanlah pekerjaan mudah. Pertama-tama Anda harus menurunkan ego sendiri. Kedua, Anda harus dapat melihat segala sesuatu secara objektif. Pujian yang tulus tidaklah mengada-ada.

Tentu semua orang akan suka kalau mereka diakui telah melakukan pekerjaan dengan baik. Kalau Anda seorang atasan, cobalah  lihat secara detail kontribusi masing-masing anak buah. Demikian pula dengan sesama rekan kerja, hargai keberhasilan dan sumbangsih mereka.

Nah, bagaimana dengan ke atasan? Apakah Anda perlu memuji prestasinya. Pujian memang harus diberikan kepada siapa pun. Akan tetapi untuk atasan Anda harus hati-hati jangan sampai terkesan mencari muka. Sampaikan pujian berdasarkan fakta.

5. Jadi mentor.

Setiap orang pada hakikatnya ahli pada bidang tertentu. Oleh karena itu, jangalah pelit untuk berbagi ilmu. Anda bisa menjadi mentor kepada rekan yang lebih junior, atau kepada orang baru. Bagaimana caranya agar bisa menjadi mentor bagi orang lain padahal Anda sangat sibuk? Cobalah bekerja secara efisien sehingga bisa hemat waktu. Penghematan waktu tersebut bisa Anda gunakan untuk berbagi ilmu dan keterampilan dengan orang lain.

6. Kegagalan bersama.

Apabila ada karyawan yang melakukan kekeliruan, sampaikan bahwa itu adalah kegagalan bersama dalam satu tim. Di sini artinya Anda juga ikut berkontribusi pada kegagalan tersebut. Apabla Anda seorang pemimpin, Anda perlu mengungkapkan bahwa sebagai pemimpin Anda memiliki andil terbesar pada kegagalan tim.

Namun pengakuan kegagalan saja tidaklah cukup. Anda harus membantu karyawan yang melakukan kesalahan untuk melakukan perbaikan bersama. Dengan cara seperti itu, tidak ada orang yang merasa disalahkan dan semangat kerja tim tetap terjaga.

Bermurah hati tidaklah mahal. Anda tidak perlu mengeluarkan biaya apa pun. Yang diperlukan hanyalah sikap rendah hati dan berpikiran positif. Cobalah Anda terapkan, karier Anda akan berkembang.


Catatan: Catatan: Tulisan ini diinspirasi oleh karya Jodi Glickman berjudul “Be generous at work” yang dimuat dalam Harvard Business Review On Point. Summer 2016.
Foto: Photo by Yan Krukov at pexels.com

Please Login to Comment.

Need Help? Chat with us