Mengatasi Stres Dengan Belajar

Mengatasi Stres Dengan Belajar

Stres, gelisah, dan lelah. Itulah yang dirasakan karyawan ketika bekerja dalam tekanan yang besar: jam kerja panjang, target tidak realistis, batas waktu ketat, dan tumpukan pekerjaan menggunung. Stres menimbulkan kecemasan dan kemarahan, serta mendorong perilaku tidak etis dan pengambilan keputusan yang sembrono, juga kelelahan kronis. Semua itu berujung pada buruknya kinerja pribadi maupun organisasi.

Dalam mengatasi stres, biasanya orang mengambil satu dari dua cara. Pertama adalah bertempur habis-habisan untuk menyelesaikan pekerjaan pemicu stres. Dengan pendekatan ini, karyawan bekerja mati-matian untuk menyelesaikan pekerjaan secepatnya. Ketika selesai, kita merasa menjadi orang yang tangguh. Itu sisi positifnya. Sisi negatifnya, pekerjaan yang diselesaikan dalam kelelahan hasilnya cenderung amburadul.

Cara kedua adalah dengan berhenti untuk sementara. Kita tinggalkan pekerjaan yang menekan tersebut untuk jalan-jalan, makan di restoran, menonton di bioskop, berolah raga, atau retreat. Harapannya, dengan beristirahat, pekerja bisa meraih kembali energi dan semangatnya. Dengan semangat baru, pekerjaan bisa diselesaikan secara lebih baik. Itu sisi positifnya. Sisi negatifnya, pekerjaan tetap belum selesai dan mungkin menjadi mundur dari batas waktu yang ditetapkan.

Memang kedua cara tersebut membawa kelemahan. Telah lama penelitian membuktikan bahwa manusia memiliki batas dalam menangani beban kerja yang berat. Kalau kita memaksakan diri terus bekerja saat lelah jiwa raga, selain hasil kerjanya berpotensi buruk, juga dapat merusak kesehatan fisik.

Demikian pula, meninggalkan sementara pekerjaan, meskipun menjadi lebih bugar, pekerjaannya yang sangat menekan tersebut belum terselesaikan. Tidak ada jaminan kita akan bebas dari stres ketika kembali mengerjakannya. Bahkan dengan meninggalkan pekerjaan, terkadang menimbulkan rasa bersalah.

Jadi, apa lagi yang bisa kita lakukan agar pekerjaan bisa selesai dengan baik dan karyawan juga tetap sehat fisik dan mentalnya? Hasil penelitian oleh Chen Zhiang, Christopher G. Myers, dan David M. Mayer, menyarankan alternatif ketiga, yaitu menyelesaikan pekerjaan sebagai bentuk pembelajaran. Mengatasi stres dengan belajar? Belajar bukankah berarti meninggalkan pekerjaan tersebut?

Iya. Belajar yang dimaksudkan di sini berarti mengambil keterampilan baru, mengumpulkan informasi baru, atau mencari tantangan intelektual baru. Lalu bagaimana dengan tumpukan pekerjaan yang harus diselesaikan? Kita tetap menyelesaikan pekerjaan tersebut, tetapi dengan cara berfikir dan metode yang baru. Dengan demikian, pekerjaan selesai dengan mutu yang bagus, dan kita tetap bergembira serta bergairah.

Ketiga peneliti tersebut, Chen Zhiang, Christopher G. Myers, dan David M. Mayer, telah membuktikan bahwa kegiatan belajar dapat menjadi penyangga dari dampak stres, termasuk emosi negatif, perilaku tidak etis, dan kelelahan. Penelitian dilakukan terhadap pekerja dari berbagai organisasi dan industri dan pada kelompok calon dokter yang sedang praktik.

Penelitian ini menemukan bahwa kegiatan belajar, sebagai penyangga stres, bekerja melalui dua jalur. Jalur pertama bersifat instrumental. Secara instrumental, belajar membawa kita ke informasi dan pengetahuan baru yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah stres jangka pendek. Kegiatan belajar juga membekali kita dengan keterampilan dan kemampuan baru untuk mengatasi atau bahkan mencegah stres di masa depan.

Secara psikologis, dengan mempelajari hal-hal baru akan membantu kita untuk menjadi merasa kompeten dan mampu mencapai tujuan. Rasa mampu dan kompeten ini meningkatkan rasa percaya diri sehingga bisa bekerja secara nyaman. Sumber daya psikologis ini memungkinkan kita untuk membangun ketahanan dalam menghadapi pekerjaan yang menekan.

Bukti dari belajar sebagai alat untuk meringankan stres

Dalam riset terhadap lebih dari 300 karyawan dari berbagai organisasi dan industri di Amerika serikat, peneliti menemukan bahwa ketika stres, orang cenderung terlibat dalam perilaku tidak etis di tempat kerja, seperti mencuri, memalsukan catatan absensi, atau bersikap kasar kepada rekan kerja. Riset lanjutan terutama ditujukan kepada calon dokter yang kerja praktik di rumah sakit. Bekerja di rumah sakit bagi calon dokter memang sangat menekan, karena banyaknya pasien yang harus diurus.

Pada riset lanjutan dilakukan pada dua kondisi. Pertama adalah, selama dua minggu, di sela pekerjaan beratnya, responden melakukan kegiatan santai, seperti minum kopi, olah raga, atau sekadar ngobrol dengan rekan kerja. Kedua adalah, selama dua minggu pula, responden diminta mempelajari sesuatu yang baru, baik terkait langsung maupun tidak langsung dengan pekerjaannya. 

Hasil penelitian menunjukkan, dalam menghadapi stres, karyawan mengalami lebih sedikit emosi negatif, seperti kecemasan dan kesusahan, dan terlibat dalam perilaku yang kurang etis, pada hari-hari ketika mereka terlibat lebih banyak kegiatan belajar di tempat kerja dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Sebaliknya, kegiatan santai tidak menyangga akibat yang merugikan dari stres—karyawan mengalami tingkat emosi negatif yang sama dan tetap terlibat dalam banyak perilaku tidak etis.

Strategis menggunakan belajar di tempat kerja

Sekarang, bagaimana menggunakan pembelajaran untuk menghadapi stres di tempat kerja?

1. Ubah beban kerja menjadi peluang belajar.

Saat stres muncul, ubah cara berpikir Anda, dari menganggapnya sebagai beban, menjadi peluang untuk belajar. Katakan pada diri sendiri dari “pekerjaan berat, sangat membebani” menjadi “ini adalah tantangan sekaligus kesempatan yang bermanfaat untuk belajar.” Perubahan cara berpikir ini memberi Anda peluang untuk tumbuh menjadi orang yang lebih kompeten dan kuat.

2. Bekerja dan belajar bersama yang lain.

Alih-alih dipikir sendiri dan diselesaikan sendiri, dapatkan masukan dari orang lain. Mendiskusikan penyebab stres dengan kolega dapat mengungkap wawasan tersembunyi, baik dari pengalaman mereka atau dari pertanyaan dan perspektif mereka.

3. Agendakan mempelajari sesuatu baru.

Di samping murni istirahat santai—seperti bermeditasi atau mengambil libur—pertimbangkan untuk membuat agenda mempelajari ilmu atau keterampilan baru. Ilmu baru tersebut bisa terkait dengan pekerjaan yang diselesaikan, bisa juga ilmu yang lebih luas terkait dengan profesi pekerjaan Anda. Dengan demikian Anda merasa semakin kompeten dan mampu untuk menjalani kegiatan dan profesi dengan penuh gairah. [M]

Catatan: Tulisan ini diadaptasi “Cope Your Stress, Learning Something New” karya Chen Zhiang, Christopher G. Myers, dan  David M.Mayer yang diterbitkan pada Harvard Business Review, 4 September 2018.
Foto oleh Tima Miroshnichenko dari Pexels

Please Login to Comment.

Need Help? Chat with us