Berpikir Cermat, Bertindak Cepat

Berpikir Cermat, Bertindak Cepat

Ketergesaan memang kontraproduktif dan mahal. Pada situasi yang mendesak, reaksi terlalu cepat akan menghasilkan keputusan yang tidak cermat, solusi dangkal, dan tindakan asal-asalan. Sementara itu, jika bergerak terlalu hati-hati dan lamban, kita akan kehilangan kesempatan dan sering terjebak munculnya permasalahan baru.

Bagaimana cara mengatasi buah simalakama ini? Coba gunakan teknik yang disebut “refleksi kemendesakan”.  Dengan teknik ini, kita membawa kesadaran penuh dan melakukan perenungan cepat untuk menyelaraskan antara pemikiran terbaik dengan tindakan cepat. Kita memiliki tiga strategi untuk menjalankan teknik ini.

1. Diagnosis jebakan kemendesakan

Pertama-tama, cari penyebab mengapa kita hidup seperti dikejar-kejar hantu. Kita merasa memiliki banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu singkat. Kita merasa 24 jam sehari tidaklah cukup. Identifikasi faktor yang membatasi kita bisa berpikir dengan baik dalam menyelesaikan suatu pekerjaan—kebiasaan, ketidaksadaran, dan teknik kontraproduktif yang membuat kita bekerja keras sekenanya.  Contoh dari jebakan kemendasakan yang umum adalah:

  • Buru-buru mengakhiri suatu pekerjaan hanya untuk bisa mengerjakan pekerjaan berikutnya lebih awal.
  • Melakukan beberapa pekerjaan sekaligus pada saat pekerjaan tersebut menuntut konsentrasi penuh.
  • Menyanggupi pekerjaan yang penyelesaiannya tidak masuk akal dan menguras energi.

Setelah mendiagnosis jebakan kemendasakan, kita bisa mencoba mengubah pola tersebut. Misalnya, ternyata akar masalahnya adalah sikap yang ingin tampak hebat dengan menyanggupi menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya tidak realistis. Bisa juga, ternyata kita adalah orang yang tidak bisa mengatakan ‘tidak’.  Bisa juga ketidakmampuan mendelegasikan, membuat pekerjaan menumpuk.  Setelah mendiagnosis jebakan ketergesaan, Anda bisa memikirkan cara mengubah pola hidup.

2. Fokus pada prioritas

Masalah lain adalah kecenderungan untuk mengerjakan pekerjaan yang kurang penting hanya karena menikmati pekerjaan tersebut. Biasanya kita mendahulukan pekerjaan yang kita sukai dulu, padahal kurang mendesak dan mungkin juga tidak penting.

Cara untuk mengatasinya: perlu refleksi kita mendahulukan pekerjaan karena suka, atau karena secara objektif memang lebih penting dan mendesak. Hasil refleksi ini dijadikan dasar untuk membuat prioritas mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Dan yang penting, fokus pada pekerjaan yang sedang diselesaikan.  

3. Pilah-pilah situasi

Dalam dunia yang sempurna, kita dapat menerapkan petuah: “berpikir dulu sebelum bicara, merenung dulu sebelum bertindak”.  Namun, dunia kita tidaklah sempurna. Kita memiliki begitu banyak yang harus diselesaikan dalam waktu terbatas, sehingga kita tidak jarang mengambil langkah: “bertindak dulu, pikir belakangan”.

Sebenarnya semua masalah dan pekerjaan menuntut pendekatan yang berbeda-beda. Ada pekerjaan yang perlu direncanakan sangat cermat, ada yang bisa dipikir secara sekilas. Pekerjaan-pekerjaan yang berdampak besar, berisiko tinggi, atau belum akrab, menuntut pemikiran dan perencanaan matang. Sebaliknya, pekerjaan yang bersifat rutin dan sudah sering dikerjakan, kita bisa memikirkannya secara cepat. Bahkan pada pekerjaan yang rutin, kita dapat “mikir sambil jalan”.

Dengan menerapkan tiga strategi ini, kita bisa memperoleh paling tidak dua manfaat. Pertama, kita tidak terjebak pada krisis kurang waktu. Kita bisa mengerjakan pekerjaan yang benar-benar penting dengan kualitas prima. Kedua, saat kita terjebak oleh kemendesakan, kita masih bisa memberikan hasil yang prima.

Sudah selayaknya pemimpin memperkuat aspek dalam jati diri (inside) untuk memberi kontribusi yang luas (outside) kepada umat manusia dan alam. [M]

Foto: Robin Higgins di pixabay

Please Login to Comment.

Need Help? Chat with us