Memimpin Berdasarkan Panggilan Jiwa

Memimpin Berdasarkan Panggilan Jiwa
Memimpin Berdasarkan Panggilan Jiwa




Oleh:
Kartini Sally. Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Komite Independen Risk Management dan Audit serta Komite Independen Tata Kelola Terintegrasi PT BanK HSBC Indonesia.

Pada 2008, Kevin Cashman menerbitkan buku Leadeship from the inside out yang menyentil praktik pengembangan kepemimpinan dunia bisnis. Menurut Cashman, program pengembangan kepemimpinan  menekankan aspek dalam (inside) dan aspek luar (outside). Aspek dalam (inside) adalah kejiwaan dan spiritualitas, seperti pertumbuhan pribadi, tujuan hidup, dan makna hidup. Adapun aspek luar adalah hasil-hasil, seperti inovasi, kinerja, dan kompetensi. Secara ringkas, aspek luar disebut sebagai hard core kepemimpinan, sedangkan aspek dalam adalah soft core kepemimpinan.

Pemimpin yang mampu mengoptimalkan soft core-nya akan mendapatkan keunggulan berupa:

  • Keotentikan. Kepemimpinan mencerminkan jati dirinya.
  • Keluasan pengaruh. Pemimpin dengan soft core yang kuat memiliki pengaruh luas melampaui struktur, organisasi, dan zamannya.
  • Memberi manfaat yang luas. Pemimpin dengan soft core yang kuat memberi kontribusi kebaikan lingkungan, mulai dari keluarga, perusahaan, masyarakat, bahkan negara.

Apa itu inside out leadership?

Larry A. Braskamp dan Jon F. Wergin memberi kita penjelasan yang cukup benderang mengenai inside out leadership, yaitu memimpindari diri sendiri kemudian diteruskan ke pihak lain. Cara ini dilakukan dengan memperkokoh kekuatan batin dalam diri dan fokus keluar (inner based and outer focus). Apa yang dimaksud dengan memperkokoh ke dalam diri sendiri? Di sini pemimpin menggali berbagai keyakinan dan nilai-nilai untuk menemukan identitas dirinya. Keyakinan dan nilai-nilai ini menjadi dasar untuk mengembangkan pengaruh ke luar.

Menariknya, pemimpin yang bertumpu pada aspek dalam dirinya, menempatkan kepemimpinan sebagai panggilan jiwa. Seseorang menjadi pemimpin karena dorongan nilai-nilai dan keyakinan untuk memberi manfaat kepada sesama. Besarnya pengaruh pemimpin ditentukan oleh kekuatan batinnya. Semakin besar kekuatan dalam dirinya, semakin besar daya pancarnya keluar.

Larry A. Braskamp dan Jon F. Wergin memilah tahapan penyebaran pengaruh nilai-nilai yang diyakini pemimpin, yaitu hidup dengan panggilan jiwa, memimpin dengan panggilan jiwa, dan mengembangkan masyarakat dengan panggilan jiwa. Hidup dengan panggilan jiwa merupakan kepemimpinan dengan pengaruh yang paling kecil, karena sang pemimpin hanya menjalani hidup berdasarkan nilai-nilai yang diyakininya. Pada level memimpin dengan panggilan jiwa, pemimpin menularkan nilai-nilai yang diyakininya ke lingkungan sekitarnnya, unitnya, atau organisasinya. Pada tingkat mengembangkan masyarakat dengan panggilan jiwa, pemimpin menyebarkan keyakinannya pada masyarakat luas.

Memimpin Berdasarkan Panggilan Jiwa

Kevin Cashman memberi resep untuk menjadi pemimpin inside out dengan pengaruh yang kuat dan luas, yaitu dengan menempuh perjalanan menuju 7 penguasaan berikut:

  1. Penguasaan tindakan: proses untuk menemukan jati diri atau karakteristik diri sendiri.
  2. Penguasaan tujuan: proses untuk menemukan tujuan dari kepemimpinannya, menemukan kontribusi yang bisa diberikan dari kepemimpinanya.
  3. Penguasaan perubahan: proses untuk mencapai kemampuan beradaptasi dengan segala perubahan, belajar dari pengalaman untuk percaya diri menghadapi tantangan di masa depan.
  4. Penguasaan Interpersonal: kemampuan untuk memimpin melalui sinergi dan kerja sama dengan orang lain untuk memberi manfaat yang lebih besar.
  5. Penguasaan menjadi diri sendiri: tahapan memahami diri sendiri melalui perenungan mendalam untuk mengetahui apa saja kontribusi yang telah diberikan dan apa saja yang perlu dilakukan untuk meningkatkan manfaat kepada sekelilingnya.
  6. Penguasaan keseimbangan: kemampuan untuk mengelola keseimbangan segala aspek dalam kehidupan. Ciri-ciri pemimpin yang sudah menguasai keseimbangan adalah fokus  dalam penyelesaian pekerjaan, memiliki motivasi untuk selalu memberikan yang terbaik, kreatif, inovatif, antusias, dan optimistis.
  7. Penguasaan tindakan: kemampuan membangun komitmen dan pembuktian dalam bentuk tindakan untuk melakukan perubahan dan memberi manfaat.
Memimpin Berdasarkan Panggilan Jiwa

Pada tataran praktis, Adrian Yap Cheng Khin memberi cara untuk menjadi pemimpin berbasis kekuatan batin yang baik:

  1. Mengembangkan kelompok yang mandiri. Pemimpin tidak menjadikan dirinya sebagai fokus, melainkan sebagai ‘pengasuh’ yang membuat tim/kelompoknya mandiri. Kelompok ini akan tetap kuat dan berkembang tanpa dirinya.
  2. Menghargai perbedaan. Pemimpin dengan batin yang kuat, mengharkatkan sesama, memandang orang lain memiliki posisi yang setara sehingga menghargai perbedaan. Orang lain dipandang memiliki posisi yang sama dengan dirinya.
  3. Ikhlas. Pemimpin dengan nilai-nilai yang kuat akan berkontribusi tanpa pamrih. Pemimpin membesarkan orang-orang atau organisasinya dan merelakannya pergi.

Kepemimpinan Budi Luhur

Pada tahun 2012, Pusat Pengembangan Kepemimpinan PT Wijaya Karya, yang dikenal sebagai Wikasatrian,  berhasil mengembangkan konsep “Kepemimpinan Budi Luhur”. Konsep ini hampir sama dengan model inside out, yaitu menekankan pentingnya kekuatan mental spiritual. Bedanya, Kepemimpinan Budi Luhur bersumber dari praktik dan kearifan masyarakat Indonesia. Model kepemimpinan ini dibangun berdasarkan riset oleh Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada terhadap 11 suku besar di Indonesia. Oleh karenanya, disebut juga sebagai Kepemimpinan Berbasis Kearifan Lokal atau Kepemimpinan Nusantara.

Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa kepemimpinan masyarakat Indonesia didasarkan atas tiga fondasi, yaitu ketuhanan, kemanusiaan, dan alam. Ketuhanan melahirkan sikap religius. Kemanusiaan melahirkan sikap menghargai sesama manusia.  Sedangkan fondasi alam melahirkan pemimpin yang melestarikan alam.

Seperti juga konsep yang ditawarkan oleh Cashman, seorang pemimpin harus melewati perjalanan untuk mencapai level budi luhur. Perjalanan ditempuh melalui transformasi diri dan keluwesan.

Memimpin Berdasarkan Panggilan Jiwa

Pemimpin berbudi luhur adalah pemimpin yang mencapai pencerahan terhadap konsepsi pengosongan diri dari kebendaan, nafsu, dan kekuasaan. Pemimpin yang telah mencapai budi luhur, akan melepaskan keterikatan dirinya dari harta, takhta/pangkat, dan kuasa. Dengan lepasnya keterikatan kebendaan dan nafsu duniawi, yang ada pada diri pemimpin hanyalah kontribusi. Dalam teori hierarki kebutuhan Maslow, pemimpin budi luhur sampai pada tahap aktualisasi diri.

Untuk mencapai jenjang  budi luhur, seorang pemimpin harus melewati tahapan, yaitu Satria Pratama, Satria Utama, dan Satria Luhur. Melalui pembelajaran, pemimpin bisa mentransformasi dirinya secara bertahap di masing-masing fondasi kepemimpinannya. Sebagai contoh fondasi Ketuhanan, diwujudkan dengan sikap syukur, ikhlas, dan bahagia. Untuk mencapai level Satria Pratama, seorang pemimpin harus belajar menguasai pikiran dan menciptakan kebahagiaan. Pada level Satria Utama, pemimpin harus bisa ikhlas dan berbahagia melalui kontribusi.

Memimpin Berdasarkan Panggilan Jiwa

Sudah terdapat pemahaman yang luas bahwa kemampuan memimpin bukanlah diturunkan, melainkan dipelajari. Namun bagaimana mengembangkan kemampuan kepemimpinan berbasis kekuatan dari dalam?  Barry Z. Posner  menekankan bahwa memimpin itu seni sehingga tidak bisa diajarkan dengan metode “teaching”  tetapi dengan “to do” atau melakukan. Pembelajar diajak terjun langsung dengan diberi contoh dan bimbingan (coaching).  Wikasatrian menerapkan metode belajajar dengan mengalami (experiential learning ) untuk membantu pembelajar mencapai tingkat Pemimpin Budi Luhur.

Sejarah membuktikan bahwa pemimpin-pemimpin besar lahir melalui panggilan jiwa. Mereka didasari oleh dorongan spiritualitas yang kuat. Sebut saja Marthin Luther King, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, Whiston Churchill, dan Sukarno. Mereka memiliki pengaruh yang luas, bukan hanya Ketika mereka hidup, tetapi ratusan tahun sesudahnya.

Sudah selayaknya pemimpin memperkuat aspek dalam jati diri (inside) untuk memberi kontribusi yang luas (outside) kepada umat manusia dan alam. [M]

Tinjauan Pustaka:

Braskamp, Larry A;  Wergin, Jon F (2008). Inside-out leadership, Journal of leadership.

Cashman, Kevin (1998). Leadership from the inside out: Seven pathways to mastery.  Executive Excellence Publishing

Khin, Adrian Yap Cheng (2022), 3 Leadership Lesson From Inside Out, https://www.leaderonomics.com/articles/leadership/inside-out-lessons. Diakses 25 Maret 2022  jam 1:34.

Posner, Barry Z (2009). From Inside Out : beyond Teaching About Leadership, Journal of Leadership Education, Volume 8, Issue 1.

PT Wijaya Karya, (2012). Perjalanan Wikasatrian, Pusat Kepemimpinan Nusantara.

Please Login to Comment.

Need Help? Chat with us