Latihan untuk Tidak Produktif

Membangun Kembali Personal Brand

Anda produktif? Efisien? Berguna? Lebih tepatnya, apakah Anda cukup produktif, efisien, dan berguna? Ini pertanyaan yang muncul (secara alami dan menakutkan) ketika teknologi membuat kita tetap online dan terhubung selama 24/7. Namun konektivitas ini menghadirkan dua efek samping yang tidak menguntungkan. Pertama, kita diharapkan tersedia (bisa dihubungi) setiap saat oleh bos, teman, dan keluarga. Kedua, konsep produktivitas dan efisiensi telah didefinisikan ulang sesuai dengan kemampuan perangkat digital tersebut.

Akan tetapi, menggunakan teknologi tercanggih sekalipun tidak menjamin kita akan menggunakan waktu dengan baik. Perangkat yang kita sukai penuh pengganggu yang sangat menggoda untuk menjelajah ke dalamnya. Jangan lupa, perusahaan teknologi telah merancang produk mereka agar penggunanya ketagihan.

Studi menunjukkan bahwa penggunaan teknologi secara berlebihan banyak membawa dampak buruk: depresi, kesepian, isolasi, rendahnya empati, dan bahkan memunculkan pikiran untuk bunuh diri. Dalam bukunya, 24/6, Tiffany Shlain, pendiri dari Webby Awards, mengatakan bahwa untuk bertahan hidup, sebaiknya kita keluar dari budaya “selalu aktif”. Ia menyarankan untuk membangun budaya Sabat. Budaya Sabat merupakan ajaran agama Yahudi yang mengharuskan satu hari dalam seminggu tanpa aktivitas mencari nafkah.

Sudah seribu tahun budaya Sabat menetapkan agar orang menyisihkan waktu untuk beristirahat dan merenung. Menurut ajaran Hindu Bali, ada perintah Nyepi. Satu hari tanpa aktivitas, berdiam di rumah dan merenungi perjalanan hidupnya.

Dalam penerapan dunia modern, ajaran Sabat ataupun Nyepi, memerintahkan kepada kita semua untuk meluangkan waktu tanpa kerja. Hari-hari yang memberi kesempatan kita untuk menikmati hobi dan bersosialisasi. Kita tinggalkan perangkat digital yang telah mengejar-ngejar kita untuk terus bekerja. Untuk terus produktif. Untuk terus efisien.

Penerapan budaya Sabat atau Nyepi, kita sebut saja sebagai latihan untuk tidak produktif. Anda bisa menggunakannya untuk melakukan hobi, jalan-jalan, ngobrol dengan tetangga, mengunjungi saudara dan sebagainya. Lupakan target-target pekerjaan yang terus menghantui Anda.

Apa hasil dari latihan ini? Kalau menjalankannya secara teratur, Anda akan memiliki jiwa yang tenang dan berpikir jernih. Tidak tergesa-gesa, tetapi cepat. Tidak berpikir keras, tetapi menghasilkan ide yang cemerlang.

Salah satu bagian dari latihan ini yang sangat menantang adalah meninggalkan perangkat digital Anda selama melakukan kegiatan ini. Tinggalkan tablet, smartphone, laptop, dan sejenisnya. Pada awalnya Anda mungkin merasa gelisah, tetapi cobalah. Dengan memusatkan pikiran pada tindakan yang sedang dilakukan, Anda bisa melupakan semua kecemasan yang membebani hidup Anda. Anda akan sehat secara mental dan fisik.

Cobalah berlatih untuk tidak produktif, paling tidak satu hari dalam satu minggu. [M]


Catatan: Tulisan ini diinspirasi dari karya JE Ole Jarz, “Praise of being unproductive” yang dimuat dalam Harvard Business Review, September-October 2019.
Photo by Jill Wellington at Pixabay

Please Login to Comment.

Need Help? Chat with us