Menjaga Krisis Pribadi Agar Tidak Mengganggu Kehidupan Profesional

Menjaga Krisis Pribadi Agar Tidak Mengganggu Kehidupan Profesional

Kita bekerja dalam dua kehidupan yang saling mempengaruhi: pribadi dan profesional. Hampir bisa dipastikan krisis pribadi akan berpengaruh pada kehidupan profesional Anda. Konflik dalam rumah tangga, misalnya, mau tidak mau terbawa dalam suasana kerja. Demikian pula sebaliknya, masalah-masalah pekerjaan sering mengganggu kehidupan rumah tangga. Ini merupakan fenomena lumrah yang dialami setiap orang.

Berikut ini adalah beberapa tips untuk mencegah masalah-masalah pribadi merembet menjadi masalah pekerjaan.

1. Putuskan kebutuhan Anda

Ketika Anda diterpa masalah pribadi, pasti Anda membutuhkan waktu/tenaga untuk mengatasinya. Mungkin Anda harus cuti selama beberapa hari. Mungkin Anda harus pulang lebih awal. Mungkin Anda harus pergi ke luar kota dan sebagainya.

Pertanyaannya adalah bagaimana agar pekerjaan Anda tidak terbengkalai? Anda harus mengidentifikasi pekerjaan yang tidak bisa dilakukan selama Anda menjalani krisis. Mungkin ada pekerjaan yang tidak bisa dilakukan orang lain, Anda harus mengkomunikasikan kepada orang terkait mengenai penundaan pekerjaan tersebut. Pendek kata, upayakan pekerjaan Anda tetap bisa berjalan dengan baik.

2. Tetapkan batas privasi

Ketika Anda meminta bantuan kepada orang lain, apakah itu teman sejawat, atasan, atau anak buah, tentu harus menyampaikan alasannya. Permasalahannya adalah hal ini terkait masalah pribadi. Seberapa lebar Anda harus membuka privasi Anda?

Panduan umumnya adalah sampaikan masalah Anda secara umum saja, yang terkait langsung dengan pekerjaan. Anda tidak perlu menyampaikan ke rekan kerja: “Saya sedang proses cerai”. Cukup sampaikan: “Saya harus menyelesaikan masalah rumah tangga dalam 3 hari ke depan. Apa bisa rapat koordinasi di-reschedule ke pekan depan?”

Bagaimana kalau rekan atau atasan meminta alasan yang lebih rinci? Tetap batasi sampai ke penjelasan yang relevan terkait dengan pekerjaan yang tidak bisa Anda laksanakan.

3. Minta bantuan secara spesifik

Sampaikan permintaan bantuan kepada rekan kerja, bawahan, atau atasan secara spesifik. Misalnya, karena Anda harus pulang cepat, Anda tidak bisa menyelesaikan laporan yang dijadwalkan harus selesai dalam minggu tersebut. Anda dapat meminta rekan kerja untuk melembur mengambil alih pekerjaan Anda dalam minggu tersebut.

Karena Anda harus cuti selama beberapa hari, misalnya, apakah bisa meminta rapat besok dilaksanakan tanpa kehadiran Anda. Anda dapat menyampaikan beberapa pesan penting untuk rapat tersebut.

4. Dekati atasan Anda

Bagaimanapun, atasan Anda harus mengetahui kehidupan kerja Anda. Supaya Anda merasa nyaman, hubungi atasan Anda lebih dahulu sebelum meminta bantuan orang lain. Dengan demikian, atasan Anda akan mengetahui beban kerja yang harus diambil alih oleh anggota tim yang lain.

5. Lakukan yang menurut Anda benar

Gangguan krisis pribadi tidak selalu menyebabkan tugas-tugas profesional tidak tertangani. Beberapa orang dapat memecahkan masalah justru dengan bekerja lebih keras atau lebih lama di kantor. Misalnya ketika ada keluarga yang meninggal, orang lebih senang menyibukkan diri bekerja di kantor hingga larut malam. Terkadang untuk meredam konflik suami istri, orang mengurangi frekuensi bertemu dengan cara bekerja keras di kantor. Secara prinsip, Anda harus menjaga masalah-masalah pribadi tidak merusak tugas-tugas profesional. Sulit memang, tetapi itu lebih baik. Masalah pribadi yang merembet menjadi masalah kerja, akan menimbulkan masalah baru yang pada gilirannya akan mengganggu kehidupan Anda. [M]


Catatan: Tulisan ini diinspirasi oleh karya Amy Galo, “What to do when personal crisis is hurting your professional life” yang dimuat dalam Harvard Business Review Special Issue Winter 2020.
Foto oleh Yan Krukov dari Pexels

Please Login to Comment.

Need Help? Chat with us