Mendisrupsi Diri Sendiri

Mendisrupsi Diri Sendiri

Anda sudah bertahun-tahun meniti karier, kemudian tidak ada lagi kemajuan yang bisa dicapai? Atau sudah mencapai posisi bagus, tetapi Anda tidak mendapatkan kebahagiaan yang diimpikan? Inilah saat untuk mendisrupsi karier diri sendiri. Tentu saja tidak semua orang harus harus meninggalkan jalur karier tradisionalnya. Misalnya, Anda sangat bersemangat (lebih tepatnya ambisius) untuk menduduki posisi CEO, dan Anda menemukan potensi untuk mencapainya, Anda tidak harus mendisrupsi diri sendiri dan berganti karier. 

Apa itu disrupsi? Istiah inovasi disruptif dipopulerkan oleh Cristensen Clayton M. Menurut Christensen, inovasi yang paling sukses adalah inovasi yang disruptif, yaitu mengubah pola dan tatanan bisnis lama dengan menciptakan pasar dan rantai nilai baru. Inovasi disruptif, menurut penelitian Christensen, meningkatkan peluang keberhasilan produk, perusahaan, bahkan negara. 

Disrupsi bukan hanya berhasil untuk inovasi pada level perusahaan, tetapi juga pada level individu. Business Model You, karya Alexander Osterwalder, menunjukkan cara melakukan inovasi disruptif pada karier dengan pendekatan Kanvas Model Bisnis. Mendisrupsi karier diri sendiri akan meningkatkan peluang keberhasilan mencapai tujuan karier. Disrupsi di sini berarti Anda pindah dari jalur tradisional yang telah dirintis dari awal dan menemukan karier yang inovatif. 

Apabila Anda meniti karier sebagai akuntan, misalnya, jalur karier tradisionalnya adalah menjadi direktur keuangan. Pernahkah Anda berpikir dari seorang akuntan beralih menjadi chef? Atau Anda merintis karier sebagai orang Ti kemudian beralih menjadi pemain drama? Melakukan perjalanan karier secara zig-zag sekarang sudah mulai umum. Namun, untuk sukses, Anda tidak bisa melakukannya secara acak. Inilah prinsip-prinsip disrupsi diri sendiri. 

1. Pilih karier yang dapat memenuhi kebutuhan yang belum terpenuhi

Contoh spektakuler karier yang mendisrupsi adalah Youtuber. Pada awalnya, sangat sulit kita membayangkan Youtuber menjadi jenis pekerjaan yang digandrungi banyak orang. Dan memang, Youtuber telah mengubah orang biasa menjadi luar biasa. 

Ambil contoh, Siswanto, semula adalah seorang tukang las dan teknisi bengkel motor di Banyumas. Dengan berganti profesi memberi tutorial perbaikan motor melalui Youtube, dia sukses berpenghasilan Rp150 juta per bulan. Masih terkait Youtuber, contoh lain adalah Mario Iroth. Pemuda yang semula bekerja sebagai pegawai hotel ini, memutuskan untuk menjadi petualang bersepeda motor. Dia berkeliling dunia dengan motornya, dan kisah perjalanannya diunggah ke Youtube.

Contoh lain adalah Arfian Kurniadi dan Kurniawan dari Ambarawa, lulusan SMK yang menjadi perancang komponen pesawat. Hasil rancangannya sudah digunakan oleh Boeing dan General Electric. Tahukah Anda profesi mereka semula? Tukang tambal ban dan penjual susu keliling. Mungkin Anda bertanya-tanya, bagaimana bisa beralih profesi secara drastis? Mereka memiliki hobi desain engineering yang kemudian mengikuti lomba desain 3D printing yang diadakan oleh perusahaan-perusahaan multinasional. 

2. Indentifikasi kekuatan disruptif Anda. 

Ketika hendak mendisrupsi karier sendiri, selain melihat kebutuhan ‘pasar’, juga kekuatan yang Anda miliki. Kekuatan disruptif terletak pada keunggulan unik yang tidak dimiliki orang lain pada umumnya. Misalnya Anda bekerja sebagai analis keuangan, dan senang membuat model-model keuangan yang unik. Sementara itu, tidak banyak analis keuangan yang mampu membuat model keuangan. Membuat model keuangan yang kreatif menjadi kekuatan disruptif Anda.  

Mungkin Anda seorang penulis. Sebenarnya Anda memiliki banyak sekali pilihan segmen yang bisa dilayani perusahaan, tokoh, akademisi, para teknisi, atau orang pemasaran. Sekarang lihat kekuatan Anda. Kalau Anda hebat dalam memilih kata-kata yang kuat untuk mengungkapkan perasaan, coba pilih menjadi penulis puisi dan fiksi. Kalau Anda sangat paham dengan seluk-beluk operasi bisnis dan memiliki daya analisis kuat, cobalah menekuni penulisan laporan bisnis. 

3. Belajar untuk tumbuh 

Mendisrupsi diri sendiri memerlukan pembelajaran. Untuk unggul di suatu bidang, perlu ketekunan dan fokus. Pelajari dan dalami bidang kekuatan Anda, karena keahlian yang mendalam merupakan keunggulan unik, yang tidak dimiliki oleh orang kebanyakan. 

Sebagai contoh, kalau Anda ingin meniti karier sebagai desain grafis, coba tekuni desain grafis khusus untuk pemasaran produk makanan. Apabila Anda ingin menjadi ahli keuangan, mengapa Anda tidak menekuni sebagai analis yang ahli dalam bidang pemodelan keuangan organisasi non-profit? Semua keahlian tersebut biaa diperoleh melalui pengembangan diri. 

4. Kembangkan strategi sesuai perubahan keadaan

Dalam pengembangan karier tradisional, biasanya kita membuat jalur yang kaku. Perusahaan umumnya membuat dua jalur karier, yaitu karier struktural dan karier ahli (profesional). Jalurnya sangat jelas, tahapannya juga jelas. Untuk memiliki karier yang disruptif, Anda tidak perlu membuat jalur yang detail dan kaku. Anda mengikuti perkembangan yang ada. 

Kita lihat Arfian Kurniadi dan Kurniawan tadi. Kalau Arfian mengikuti jalur karier tradisional, mungkin akan menjadi pemilik bengkel motor atau mobil. Kurniawan mungkin akan menjadi juragan susu. Karena strateginya ditumbuhkan dengan mengikuti pola yang berkembang, dia mendisrupsi menjadi ahli engineering. 

Terakhir, karier yang mendisrupsi adalah karier yang menciptakan passion, kebahagiaan dan bermakna dalam hidup Anda. Passion dan semangat inilah yang akan melahirkan kekuatan dan kreativitas mendisrupsi. Bukan hanya itu, karier yang selaras dengan passion juga menciptakan kebahagiaan hidup. 

Catatan: Tulisan ini diinspirasi oleh karya Whitney Johnson, “Disrupt Yourself” yang dimuat dalam Harvard Business Special Issue, Spring 2021.

Please Login to Comment.

Need Help? Chat with us