Menjaga Pikiran Saat Karier Jatuh

Menjaga Pikiran Saat Karier Jatuh

Jatuh dalam karier bisa menjadi pengalaman paling getir dalam kehidupan seseorang.  Jatuh, bisa bermakna turun pangkat, dipindahtugaskan ke bagian yang tidak disukai, dirumahkan, dan yang paling parah di-PHK. Apakah Anda pernah mengalaminya? Terkejut, kecewa, sedih, cemas, marah, bercampur aduk menjadi satu. Apabila tidak hati-hati, peristiwa ini bisa membawa kita pada masalah yang lebih besar: menyalahkan orang lain, menyalahkan diri sendiri, merasa tidak berdaya, merasa tidak berguna. Pola pikir destruktif membuat kita terperosok, dan tidak bisa mendapatkan kembali pijakan untuk bergerak maju.

Cara pandang terhadap suatu peristiwa sangat menentukan nasib kita selanjutnya. Kejatuhan karier, selain menyakitkan juga membuat kehidupan ekonomi dan sosial menjadi tidak stabil. Akan tetapi itu bukan berarti kiamat karier. Kuncinya adalah dengan menjaga pikiran dan membangun kebiasaan mental positif. Beberapa orang, setelah keriernya jatuh, membangun benteng pertahanan mental. Mereka belajar menerima keadaan, melihat peluang ke depan, dan segera bergerak maju. Tidak sedikit orang yang setelah jatuh, bangkit dengan kekuatan baru, dan meraih prestasi yang jauh lebih cemerlang.

Berikut ini saran tiga langkah untuk membungkam kritik batin yang melemahkan, dan membangun ketahanan mental, untuk bergerak ke depan.

Jaga sikap positif

Untuk memperoleh gambaran bagaimana sikap mental mempengaruhi karier seseorang, kita simak dua tokoh berikut ini: Budiarto dan Budiman (bukan nama sebenarnya, tetapi dua tokoh ini benar-benar ada).

Budiarto bekerja sebagai manajer proyek teknologi jaringan pada sebuah perusahaan telekomunikasi yang empat bulan lalu diakuisisi dan dimerger oleh pesaing. Sekarang dia terbaring, tidak mampu bangkit dari tempat tidur setelah empat hari yang lalu menerima kabar dirinya masuk dalam daftar karyawan yang di-PHK demi efisiensi. Dia yakin usianyalah yang menyebabkan dirinya tidak dipertahankan oleh perusahaan. Sementara itu, dia memiliki tiga anak yang harus dihidupi: anak pertama masih kuliah, anak kedua dan ketiga duduk di bangku SMA.

Pikiran buruknya berkembang. Mengapa perusahaan ‘baru’ ini tidak mempertimbangkan prestasinya dan mempertahankan hingga usia pensiun 7 tahun lagi? Sungguh jahat perusahaan ini. Dengan usia 49 tahun, perusahaan mana yang bersedia menerimanya bekerja? Mengapa begitu ada berita akuisisi tidak mempersiapkan untuk pindah? Mengapa tidak mencoba membuka usaha sendiri pada usia 35 tahun? Sekarang, bagaimana cara membiayai sekolah ketiga anaknya? Tekanan pikiran ini membuatnya depresi dan tidak bisa bangun dari tempat tidur.  

Budiman bekerja pada perusahaan yang sama dengan Budiarto. Usianya juga tidak jauh berbeda: 51 tahun. Hanya saja selama ini dia menjadi bagian dari tim public relations. Kebetulan anaknya juga tiga, anak pertama dan kedua duduk di bangku SMA, dan anak ketiga berada di bangku SMP.

Berbeda dengan Budiarto, ketika menerima surat pemberitahuan PHK, Budiman segera menyusun rencana baru. Meskipun agak terlambat, dia berencana mendirikan perusahaan agen public relations. Sambil membangun usaha tersebut, dia berencana menjadi penulis PR freelance. Langkah pertama yang dilakukan, dia menghubungi teman-temannya sesama profesi PR di perusahaan dan menawarkan diri sebagai pekerja freelance. Selanjutnya dia memperbaiki profil di Linkedin untuk menampilkan diri sebagai pencari kerja freelance dengan keahlian utama PR. Sekarang dia benar-benar fokus untuk membangun karier baru.

Sebenarnya, Budiarto maupun Budiman sama-sama kecewa ketika di PHK. Bedanya, Budiarto terjebak meratapi nasib dan menyalahkan semua pihak. Sementara Budiman menutup semua pikiran negatif dan melihat ke depan untuk bergerak maju. Budiarto kepalanya diisi dengan pikiran destruktif, Budiman diisi dengan pikiran konstruktif.

Pertanyakan pikiran negatif Anda

Sudah lumrah, begitu karier jatuh, kita akan menyalahkan orang lain, keadaan, dan diri sendiri. Dalam konsep psikologi, ini merupakan bentuk pengalihan dari ‘rasa sakit’. Pertanyakan kebenaran pikiran-pikiran destruktir tersebut, untuk meyakinkan diri bahwa pikiran tersebut salah. Berikut ini adalah contohnya.

Pikiran: “Seharusnya saya bekerja lebih keras lagi supaya tidak didemosi.”

Pertanyaan: “Apa buktinya kalau saya bekerja lebih keras tidak akan didemosi? Sekarang yang penting saya akan bekerja lebih baik lagi untuk mendapatkan peluang promosi.”

Pikiran: “Saya di-PHK karena tidak terampil.”

Pertanyaan: “Bagaimana saya tahu sebelumnya kalau saya akan di-PHK karena kurang terampil?”

Pikiran: “Saya sungguh tidak beruntung, pindah ke perusahaan perhotelan yang terpuruk oleh pandemi?”

Pertanyaan: “Siapa yang menduga pandemi akan datang?”

Pendek kata, pertanyakan pikiran-pikiran negatif yang destruktif.

Alihkan fokus Anda dari kelemahan menjadi kekuatan

Ketika  kehilangan pekerjaan, kecenderungan umum adalah mencoba mencari kesalahan yang Anda lakukan, memeriksa kemungkinan kekurangan atau kegagalan dari setiap sudut. Dampaknya Anda akan merasa menjadi orang yang bodoh, lemah, atau bahkan jahat. Namun Anda lupa bahwa Anda memiliki kekuatan, kepintaran, kecerdasan, dan kebaikan hati. Lihat pula sisi positif yang Anda miliki.

Sekarang alihkan sisi negatif itu, ke sisi positif. Untuk membalik kekecewaan ke fokus yang lebih positif. Lihat perjalanan karier Anda ke belakang, mungkin pernah mengalami kemunduran yang lebih parah, dan Anda bisa bangkit. Hitung kembali kehebatan-kehebatan Anda di masa lampau. Dengan cara ini, Anda akan mengetahui bahwa Anda masih memiliki berbagai keberuntungan serta kelebihan dan kekuatan.

Langkah selanjutnya, buat strategi memanfaatkan keberuntungan, kelebihan, dan kekuatan tersebut untuk menjalani dan mengatasi masalah kemunduran karier saat ini. Selamat mencoba. [M]

Foto oleh Gerd Altmann dari Pixabay

Catatan: Tulisan ini diinspirasi oleh karya Susan Peppercorn, “How to Silence Your Inner Critic After a Layoff“ yang dimuat dalam HBR Special Issue Winter 2021.

Please Login to Comment.

Need Help? Chat with us