Saatnya Menerapkan Sistem Jaminan Produk Halal

Saatnya Menerapkan Sistem Jaminan Produk Halal

Di tengah heboh logo halal baru yang diterbitkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), tersingkap potensi besar bisnis halal, yang ternyata bukan hanya soal uang, tetapi juga moral. Karya klasik Elif Izberk-Bilgin dan Cheryl C. Nakata “A new look at faith-based marketing: The global halal market”, mengungkapkan bahwa pemasaran berbasis keyakinan menjadi strategi baru pertumbuhan perusahaan. Perusahaan berwawasan ke depan, seperti Nestle, Walmart, dan McDonald’s menganggap segmen pasar muslim sebagai pasar ‘satu miliar’ berikutnya, setelah Cina dan India. Perusahaan-perusahaan ini sedang mengembangkan strategi untuk menarik konsumen muslim.

Namun alasan perusahaan menerapkan sistem jaminan produk halal bukan hanya itu. Dr. Muhammad M. Said dan Kaviyarasu Elangkovan dalam artikelnya ”Halal label and the ethics of business: An analytical view from producers“ menyampaikan bahwa selain dorongan laba, mencantumkan label halal pada produk mereka juga menciptakan pengalaman ikut melindungi masyarakat menjalankan keyakinan beragamanya. Pengalaman ini mendorong produsen untuk menciptakan yang lebih halal lagi.

Saatnya Menerapkan Sistem Jaminan Produk Halal
Daftar Isi Edisi November 2021

Menariknya, seperti yang disampaikan Agus Heru Darjono, Corporate Strategic Initiative Director Darya- Varia dalam Rubrik Wawancara, sistem jaminan produk halal dapat diterapkan dengan baik ketika karyawan merasa memiliki kewajiban moral untuk melindungi konsumen dari produk yang bermutu rendah dan tidak halal. Unilever sebagai perusahaan multinasional FMCG tertua di Indonesia, juga sudah jauh-jauh hari menerapkan sertifikasi halal. Alasannya sama, yaitu menyediakan produk yang aman dan nyaman bagi konsumennya.

Widyarso Roswinanto dan Mahendra Bhakti menemukan fenomena menarik dalam sertifikasi halal, yaitu semangat untuk memikat konsumen muslim. Produk yang tidak dalam kategori wajib bersertifikat halal, diberi label halal. Contohnya adalah makanan kucing berlabel halal. Penelitian oleh keduanya memang membuktikan bahwa pencantuman label halal pada produk akan meningkatkan persepsi positif konsumen terhadap kehalalan, mutu, dan merek. Akan tetapi penelitian tersebut mengungkapkan bahwa pada produk yang dikategorikan tidak layak halal, label halal tidak meningkatkan persepsi positif terhadap produk tersebut.

Dalam edisi Manajemen kali ini, pembaca diajak untuk mengkaji apa itu sistem jaminan produk halal, bagaimana menerapkannya, bagaimana mendapatkan sertifikat halal, dan manfaat yang diperoleh. Harapannya pembaca dapat mengambil manfaat dari pengalaman praktisi dan pemikiran akademisi.

Selamat membaca, sukses selalu.

Please Login to Comment.

Need Help? Chat with us