Dari Kesadaran Diri Menuju Perbaikan Diri

Dari Kesadaran Diri Menuju Perbaikan Diri

Semua orang sukses memiliki kesadaran diri yang yang tinggi. Kesadaran diri adalah pemahaman terhadap kekuatan dan kelemahan diri dan dampaknya terhadap orang lain. Namun keadaran diri hanyalah titik awal. Untuk sukses, orang harus mampu meminimalisir kelemahan dan memupuk kekuatannya melalui manajemen diri (self-management).

Ada seorang manajer yang memiliki kebiasaan terlalu banyak bicara di rapat-rapat. Setelah mendapat masukan, dia menyadari kalau dirinya senang ‘memborong’ pembicaraan. Menyadari kelemahannya, dia ingin memperbaiki diri menjadi peserta rapat yang lebih produktif untuk membantu timnya membuat keputusan yang lebih baik.

Suatu ketika dia mengikuti rapat dengan 15 peserta. Namun dia mengambil 40% pembicaraan. Setelah rapat usai, coach-nya memintanya untuk mengevaluasi diri. Akan tetapi jawaban yang diberikan sebagai berikut, “Saya memang banyak bicara, tetapi itu karena banyak hal penting yang harus saya sampaikan” Kemudian dia terus nyerocos memberitahuan ide-ide pentinya itu kepada coach-nya. Manajer ini sangat sadar diri, tetapi tidak mampu memanajemeni dirinya.

Manajemen diri adalah pilihan sadar untuk menolak preferensi, kesenangan, atau kebiasaan yang tidak produktif, dan memilih perilaku untuk lebih produktif. Pendek kata, sadar diri adalah tahu diri, sedangkan manajemen diri adalah kemampuan mengendalikan diri. Untuk mampu menjalankan manajemen diri, ikuti empat langkah berikut ini:

  1. Berada di saat ini. Fokuskan perhatian pada apa yang sedang terjadi saat ini, bukan kejadian yang telah berlalu ataupun peristiwa yang akan datang.
  2. Sadar diri. Perhatikan apa yang Anda lihat, dengar, rasakan, lakukan, katakan, dan pertimbangkan.
  3. Identifikasi berbagai pilihan perilaku. Apa yang ingin kamu lakukan selanjutnya? Apa kemungkinan konsekuensi dari setiap tindakan tersebut? Informasi apa saja yang diperlukan terkait pilihan-pilihan tersebut? Apa saja pilihan alternatif yang dapat Anda buat, termasuk pilihan yang tidak Anda sukai?
  4. Secara sengaja, pilih perilaku paling produktif. Perilaku apa yang akan membawa hasil terbaik—bahkan jika perilaku tersebut sangat sulit dilakukan?

Coba kita terapkan proses ini pada kasus manajer yang banyak bicara di atas.

Berada di saat ini: “Saya fokus pada percakapan ini, benar-benar mendengarkan komentar semua orang, dan memperhatikan apa yang sedang terjadi.”

Sadar diri: “Saya perhatikan, saya antusias dan bersemangat untuk membagikan ide-ide saya. Saya ingin memberi contoh. Saya juga menyadari ada banyak orang di ruangan itu yang mencoba untuk berbicara, dan saya tahu saya cenderung ingin banyak bicara, yang dapat menghalangi orang lain untuk berpartisipasi.”

Identifikasi berbagai pilihan perilaku: “Saya dapat menjelaskan ide-ide saya, mengajukan pertanyaan yang bermanfaat, mengundang orang lain untuk membagikan ide-ide mereka, atau mendengarkan dalam hati.”

Secara sengaja memilih perilaku yang diyakini paling produktif: “Saya akan menahan komentar saya dan mendengarkan apa yang orang lain katakan. Meskipun saya benar-benar ingin membagikan berbagai ide, saya telah berulang kali diberitahu bahwa saya terlalu banyak bicara, dan tidak memberi orang lain kesempatan untuk berkontribusi. Jika saya mendengarkan sekarang, saya akan memberi orang lain kesempatan itu.”

Mengapa manajemen diri begitu sulit dilakukan? Kita kembali ke definisi tadi. Perilaku yang paling produktif seringkali tidak selaras dengan kebiasaan dan preferensi kita. Kalau semua kebiasaan dan kesenangan kita merupakan perilaku produktif, kita tidak memerlukan manajemen diri.

Berperilaku dengan cara yang tidak sesuai dengan preferensi, memang sangat berat. Dalam kasus manajer yang terlalu banyak bicara di rapat tadi, menahan diri tidak bicara membuatnya tidak nyaman (“Saya selalu tampil pertama dalam tanya jawab karena khawatir orang yang tidak pintar menjawab terlebih dahulu”), merasa tidak terampil (“Saya tidak tahu cara menyampaikan umpan balik secara sopan”), dan merasa tidak menyenangkan (“Saya suka ceplas-ceplos, saya tidak sabar untuk berlama-lama pilih kata).

Tindakan yang menentang kebiasaan diri sendiri, akan menimbulkan perasaan negatif. Dengan kebiasaan, otak kita menciptakan jalan pintas dan bergerak dari stimulus ke respons tanpa berpikir, sehingga menghemat waktu dan tenaga. Namun perilaku nonkebiasaan mengharuskan kita untuk memikirkan suatu situasi, mempertimbangkan pilihan, membuat pilihan, dan kemudian menunjukkan perilaku yang sejalan dengan pilihan itu. Tindakan ini membutuhkan kerja keras. Efisiensi auto-pilot inilah yang membuat kebiasaan dan preferensi begitu sulit diubah. Lebih mudah dan lebih menyenangkan untuk melakukan kebiasaan lama daripada menginvestasikan energi untuk menciptakan yang baru.

Terlepas dari hambatan-hambatan ini, manajemen diri adalah keterampilan yang dapat dipelajari. Inilah cara untuk memulainya:

1. Putuskan, pada perilaku mana yang akan memanajemeni diri. Perhatikan cara kerja Anda pada bidang tersebut—apa yang Anda katakan dan lakukan dan apa yang tidak Anda katakan dan tidak lakukan. Identifikasi perilaku yang sudah efektif dan yang belum efektif. Misalnya, sering terlambat menyerahkan pekerjaan, gampang berjanji, banyak bicara di rapat, senang menyela pekerjaan hanya untuk melihat Facebook atau Whatsapp.

2. Renungkan apa yang membuat manajemen diri Anda lemah. Misalkan, ketika Anda ingin menyerahkan pekerjaan sebelum deadline, apa yang membuat menundanya? Mengapa Anda memilih melakukan itu? Apa yang membuat Anda kurang sadar diri saat itu? Jika Anda berbicara terlalu banyak dalam rapat, misalnya, pikirkan mengapa Anda melakukan itu. Mungkin Anda lebih menyukai ide Anda sendiri, atau tidak pernah terpikir oleh Anda untuk berbicara lebih sedikit.

3. Pertimbangkan perilaku lain dan bagaimana reaksi diri Anda. Alih-alih bertindak tanpa pikir panjang, coba pertimbangkan perilaku lain yang lebih efektif. Apa reaksi Anda terhadap pilihan tersebut? Perhatikan bagaimana preferensi dan kebiasaan Anda muncul di sini. Pada contoh berbicara terlalu banyak dalam rapat, opsi yang bisa dipertimbangkan adalah menunggu orang lain berbicara sebelum menawarkan perspektif Anda. Sekarang, pertimbangkan reaksi Anda terhadap opsi itu. Apakah Anda takut orang lain akan menyampaikan gagasan Anda sehingga Anda kehilangan kesempatan mendapatkan pujian? Atau takut ada ide lain yang lebih baik sehingga gagasan Anda tampak buruk?

4. Buat rencana. Setelah mengetahui perilaku yang ingin Anda ubah, memahami faktor yang mendorong, dan mengidentifikasi beberapa opsi, pikirkan langkah nyata yang bisa diambil. Jika Anda berbicara terlalu banyak dalam rapat misalnya, putuskan akan berbicara berapa kali dalam suatu rapat, masing-masing berapa lama. Bisa juga Anda merancanakan dalam rapat untuk hanya mendengarkan tanpa mengeluarkan pendapat.

5. Praktikkan. Kebiasaan lama tertanam kuat di otak kita. Untuk mengubahnya, kita perlu membuat jalur saraf baru (kebiasaan baru), dan ini membutuhkan latihan. Apabila Anda ingin menghilangkan kebiasaan menyerahkan pekerjaan mepet deadline, lakukan latihan untuk menyelesaikan pekerjaan semingu sebelumnya. Hitung berapa kali Anda sukses selesai seminggu sebelum deadline, berapa kali gagal. Evaluasi apa yang membuat sukses dan apa yang membuat gagal.

6. Ulangi prosesnya. Kembali ke langkah kedua dan amati upaya Anda, renungkan pilihan Anda, revisi rencana, dan praktikkan lagi. Dalam setiap iterasi/perulangan yang berurutan, Anda akan belajar lebih banyak tentang cara Anda beroperasi, apa yang mendorong perilaku Anda, dan bagaimana Anda dapat meningkatkannya.

Memang sangat nyaman dengan cara hidup yang itu-itu saja. Repotnya, lingkungan kita berubah, dan untuk sukses kita perlu beradaptasi. Sadar diri dan manajemen diri merupakan jalan menuju hidup lebih baik. Mulailah dengan mengenali tindakan Anda saat ini, mempertimbangkan pilihan alternatif, dan kemudian bekerja keras meninggalkan kebiasaan lama yang tidak efektif. Berkomitmenlah untuk melakukan cara yang paling produktif. [M]


Catatan:

Tulisan ini diadaptasi dari karya Jennifer Porter “How to Move From Self-Awareness to Self-Improvement” dipublikasikan dalam Harvard Business Review, 19 Juni 2019. https://hbr.org/2019/06/how-to-move-from-self-awareness-to-self-improvement

Please Login to Comment.

Need Help? Chat with us