MEMBANGUN DIGITAL MINDSET DAN KOLABORASI DI OVO

Kartika Akbaria, Head of People Experience OVO,
di Human Capital National Conference 2019, Jakarta.

Penelitian yang dilakukan oleh Center for Human Capital Development (CHCD) PPM Manajemen menunjukkan bahwa kolaborasi ikut berkontribusi terhadap terbentuknya digital mindset. Digital mindset sendiri merupakan syarat sukses bagi perusahaan berbasis teknologi digital. Berikut adalah pengalaman PT Visionet International (OVO) membangun budaya kolaborasi yang disampaikan oleh Kartika Akbaria, Head of People Experience OVO, di Human Capital National Conference 2019, Jakarta.

Sekilas tentang OVO

PT Visionet Internasional (OVO) dirintis sejak tahun 2016, tetapi baru benar-benar beroperasi secara efektif pada awal 2018. Ide awal pendiriannya adalah untuk meningkatkan inklusivitas keuangan dan partisipasi masyarakat Indonesia dalam ekonomi digital.

Tentu saja ada latar belakangnya mengapa shareholder mengembangkan visi semacam ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari penduduk Indonesia yang berjumlah di atas 265 juta, lebih dari 177 juta (66%) adalah pengguna mobile phone. Penetrasi internet di Indonesia juga cukup besar, yaitu 50% dari total penduduk. Menariknya, 39% penduduk Indonesia adalah pengguna media sosial.

Kalau melihat kebiasaan online orang Indonesia, kita akan mengetahui bahwa lebih dari sepertiga waktunya (8 jam, 51 menit) digunakan di dunia maya. Dua pertiga waktu di dunia maya tersebut digunakan untuk aktif di media sosial (lebih dari 3 jam). Selebihnya digunakan untuk menonton video (lebih dari dua jam) dan untuk mendengarkan musik (lebih dari 1 jam).

Sementara itu, dari aspek financial literacy, Indonesia masih memiliki tantangan besar: 66% belum bersentuhan dengan bank (unbanked), dan kurang dari 40% pengguna perangkat mobile yang memiliki aplikasi keuangan. Dan yang paling mencolok adalah 90% transaksi masih berbasis tunai.

Berkaitan dengan financial literacy, penting bagi masyarakat luas bukan hanya diberi teknologinya, tetapi juga pengetahuan. Sebagai contoh, tidak sedikit warga masyarakat kita yang terjebak dengan pinjaman online karena persyaratan yang dianggapnya sangat mudah.

Sebenarnya bank sudah menyediakan produk-produk jasa keuangan. Hanya saja aksesnya belum merata ke seluruh masyarakat Indonesia.

Bagi segmen masyarakat pedesaan, misalnya, orang lebih suka menyimpan uang tunai. Mereka kesulitan untuk berhubungan dengan bank karena jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggalnya. OVO memiliki misi untuk melayani mereka semua, tidak pandang bulu tinggal di kota besar ataupun di daerah terpencil, dari golongan ekonomi atas, maupun dari golongan ekonomi bawah.

Selain itu, pada tahun 2016, pendiri OVO juga melihat adanya tren e-commerce. Banyak sekali pedagang, mulai dari UMKM, segmen menengah, sampai yang besar ingin berpartisipasi, tetapi mereka tidak tahu bagaimana caranya. Untuk itulah OVO membangun ekosistem yang memfasilitasi mereka masuk dalam ekonomi digital.

Pada awal beroperasinya, OVO merintis jasa pembayaran (e-payment), mulai dari pembayaran transport, makanan, merchant, tagihan utilitas, dan sebagainya. Saat ini bisnisnya mulai berkembang ke jasa keuangan yang lebih luas. Kelak OVO akan masuk ke bisnis business lending, consumer lending, transfer dana, investasi, credit scoring, termasuk asuransi.

Pada tahun 2019, OVO berhasil mencapai milestone baru, yaitu menjadi unicorn kelima di Indonesia. Menurut CB Insight, sebuah firma analis, OVO memiliki valuasi sebesar US$2,9 miliar. Sebuah startup

bisa menjadi unicorn ketika nilainya di atas US$1 miliar. Empat unicorn lain di Indonesia adalah Gojek, Bukalapak, Tokopedia, dan Traveloka.

Digital mindset dan budaya kolaborasi

Sebelum berbicara mengenai bagaimana membangun kolaborasi di OVO, kita perlu memahami pengertian digital mindset terlebih dahulu. Digital mindset sebenarnya jauh lebih luas cakupannya dari sekadar keandalan dan minat pada teknologi serta kecakapan dalam mengelola, misalnya berbagai smartphone dan aplikasi popular, seperti Facebook, Twitter dan Instagram.

Digital mindset merupakan serangkaian perilaku seseorang dalam menghadapi situasi penuh perubahan yang terjadi di era digital. Faktor-faktor yang membentuk digital mindset diantaranya adalah collaboration, learning agility, growth mindset, dan empowerment culture.

Supaya karyawan memiliki digital mindset, harus dimulai dari pemimpinnya. Sebagai contoh, pendiri JNE, Djauhari Zen sudah sejak lama mengatakan bahwa bisnis kurir kelak akan menggunakan model crowdsourcing. Tidak lama kemudian, muncul model bisnis ojek online, dan ojek online ini kemudian juga mengantar barang.

Tantangan

Perkembangan dan kemajuan OVO dalam menjalankan misinya dan berhasil menjadi unicorn, tidak terlepas dari tantangan yang berhasil diselesaikan. Berikut adalah tantangan tersebut.

Tantangan #1 Melayani ekosistem

Yang dilayani OVO sebenarnya adalah ekosistem. OVO bersama Grab dan Tokopedia secara bersama-sama melayani ratusan juta pelanggan, jutaan mitra merchant UKM, dan juga para agen. OVO juga memiliki aliansi strategis dengan sebuah perusahaan asuransi dan perusahaanperusahaan lain.

Untuk melayani itu semua, perusahaan tidak bisa egois hanya dengan menggunakan produknya OVO saja. Jadi, ketika akan meluncurkan suatu produk, misalnya, yang dipikirkan adalah bagaimana produk ini nanti bisa diterima di dalam ekosistem. Perusahaan berpikir bahwa produk ini bukan hanya berada di dalam OVO, tetapi juga di dalam  ekosistem. Untuk berpikir sebagai sebuah ekosistem maka harus memiliki pola pikir kolaborasi.

Tantangan #2 Pertumbuhan bisnis super cepat dan disruptif

OVO memang berada dalam bisnis yang hyper growth dan disruptif. Pada perusahaan-perusahaan

yang mapan (legacy), biasanya ada perencanaan (target pendapatan berapa, besarnya biaya berapa, investasi berapa) yang ditetapkan dalam satu tahun. Di OVO tidak bisa seperti itu. Sasaran-sasaran bisa

berubah tiap bulan, bukan hanya pada level operasional, tetapi juga pada tataran strategi perusahaan. Jadi memang harus agile benar.

Disruptifnya, di OVO menjalankan banyak sekali proyek akuisisi, investasinya tersebar di mana-mana, kemudian banyak melakukan akuisisi merchant, rencana produk, mengajak pelanggan menggunakan aplikasi ekosistem.

Nah, untuk menjalankan bisnis yang disruptif ini, OVO membutuhkan orang-orang yang disruptif pula.

Apa yang dimaksud dengan orang-orang disruptif? Mereka adalah orang dengan profil yang komunikatif, memiliki growth mindset, berpikir kreatif, memiliki learning agility, mampu mengelola perubahan, memiliki mental pemilik (bukan sekadar karyawan yang digaji), memiliki ketangguhan (kalau jatuh segera bangun, belajar, dan memulai lagi), serta memiliki kepemimpinan yang baik.

Dalam hal growth mindset, OVO memerlukan orang yang cerdas, tetapi memiliki sikap yang baik. Ketangguhan merupakan syarat mutlak untuk bekerja di OVO. Karyawan rata-rata dituntut untuk menjalankan tiga pekerjaan (peran) yang berbeda. Jadi, untuk menjalankan bisnis OVO memang memerlukan orang yang benar-benar disruptif. Apakah di pasar ada orang-orang yang ‘sempurna’ seperti ini? Ternyata ada, tetapi proses seleksi dalam perekrutan harus cermat dan sabar.

Tantangan #3 Talent war

Tantangan ketiga adalah talent war. Talent yang disruptif tadi bukan hanya sulit ditemukan dan ditarik, tetapi juga sulit dijaga. Jangankan dengan perusahaan lain, dengan Grab dan Tokopedia yang dalam ekosistem pun, OVO harus berebut.

Dalam talent war, tugas pertama adalah menarik talent terbaik. Selanjutnya menetapkan talent yang

tepat. Seorang talent yang bagus untuk perusahaan lain belum tentu cocok untuk OVO. Kemudian yang terakhir adalah bagaimana menjaga talent yang baik dan benar itu tetap tinggal di perusahaan.

Kenyataan yang harus diterima adalah kaum milenial tidak memiliki loyalitas terhadap perusahaan, mereka loyal pada profesi. Ini merupakan tantangan tersendiri untuk melakukan retensi. Lalu bagaimana untuk menghadapi tantangan ini? OVO memiliki empat mantra berikut ini.

Mantra #1 Dua mata uang untuk mendorong organisasi: nilai-nilai dan OKR

Nilai-nilai

Nilai-nilai di OVO dirumuskan dalam pernyataan Together We Can. Pernyataan nilai ini sebenarnya menekankan bahwa teamwork adalah mutlak di OVO. Di bawah Together We Can, terhadap butir-butir penting, yaitu Be the customer, Be the compass, dan Be the change.

Biasanya, nilai-nilai di perusahaan ditetapkan dari atas, di OVO ditetapkan secara besama oleh para pemimpin di bawah. Penerapannya dan internalisasi dilakukan melalui contoh. Sebagai ilustrasi, pada ulang tahun OVO, sebagai ungkapan terima kasih kepada seluruh karyawan karena telah mendukung pencapaian menjadi menjadi unicorn, pimpinan, termasuk CEO, membagikan nasi kotak kepada seluruh

karyawan. Kemudian nilai-nilai ini ditampilkan dalam aktivitas budaya. Seperti di startup lain pada umumnya, di OVO ada kegiatan olah raga dan ada juga kegiatan spiritual.

Objective key result

Objective key result (OKR) adalah alat penetapan sasaran berikut pengukuran pencapaiannya. OKR cocok pada perusahaan yang kegiatannya sangat dinamis, yang sasarannya cepat berubah. Perbedaannya dengan key performance indicator (KPI), KPI lebih cocok untuk sasaran dan tugasnya repetitif. Dalam OKR, pertama-tama ditetapkan sasarannya, baru kemudian key result untuk mengukur pencapaiannya.

Setiap OKR bisa untuk mencapai tiga tujuan, yaitu pencapaian tujuan individu atau tim bersangkutan, tujuan lintas tim, dan perusahaan secara keseluruhan. Di OVO, secara umum OKR berpatokan pada arah bisnis, tetapi bisa diusulkan dari bawah. Jadi bawahan boleh mengusulkan untuk ikut proyek tertentu. OKR ini ditetapkan pada bulan Januari dan Juli, tetapi bisa diubah kapan pun. Dalam dua bulan bisa terjadi perubahan sampai tiga kali.

Mantra #2 Work life integration

Di perusahaan startup seperti OVO rasanya tidak mungkin untuk menciptakan work-life balance. Tuntutan dan irama kerja tidaklah memungkinkan untuk membagi secara seimbang antara kehidupan kerja dengan kehidupan di luar kerja. Hal yang bisa dilakukan adalah mengintegrasikan keduanya, yaitu bagaimana membuat bekerja bisa dinikmati layaknya sebuah liburan. Demikian pula sebaliknya, ketika sedang liburan dan harus membawa pekerjaan, tidak usah dibuat pusing, anggap saja sebagai bekerja. Inilah yang disebut sebagai work life integration. Itulah sebabnya OVO mengambil motto: work hard, play harder.

Untuk mengembangkan kepemimpinan, misalnya, pernah OVO membuat program semacam amazing race. Peserta diberi sasaran tertentu dan mereka berlomba untuk mencapai sasaran tertentu. Di sini seperti permainan, tetapi sebenarnya merupakan kerja untuk membangun teamwork, kolaborasi, dan kepemimpinan.

OVO juga memiliki sport club futsal, badminton, dan beberapa kegiatan olah raga lain. Selain itu, OVO juga mengalokasikan team bonding budget, yang diberikan kepada semua orang untuk membangun kebersamaan tim. Budget bisa digunakan untuk karaoke bersama, nonton bersama, atau jalan-jalan.

Mantra #3 Teknologi sebagai enabler

Koordinasi tidak akan lancar kalau tidak dibantu dengan teknologi. Saat ini, di OVO, untuk berkoodinasi semua karyawan menggunakan G Suit. Untuk berbagi data, misalnya, mereka menggunakan Google Doc. Untuk mengoperasikan semua email, mereka menggunakan Google Hangout. Untuk melakukan survei mereka menggunakan Google Form. Untuk mengatur pertemuan, mereka menggunakan Google Calendar. Untuk melakukan conference call, mereka menggunakan aplikasi Zoom.

Selain itu, OVO juga meluncurkan OVoice. OVoice adalah suatu channel aspirasi untuk warga OVO untuk menyampaikan feedback. Caranya sangat sederhana, begitu login karyawan bisa mengisi semacam form sederhana dan mengirimkannya. Karyawan bisa memilih untuk anonim atau menyebutkan identitasnya. Bagi karyawan yang menampilkan identitasnya dan feedbacknya terpilih sebagai feedback yang baik, akan mendapat es krim.

Mantra #4 Ruang dan fasilitas pendukung kerja

Ruang berikut fasilitas kerja sangat mendukung terjadinya kolaborasi. Bayangkan kalau ruang kerjanya sempit seperti gang senggol, sangat sulit orang untuk bekerja sama. Di OVO, untuk mendukung  kolaborasi perusahaan menyediakan open desk area. Di meja terbuka ini orang bisa bekerja sambil  makan atau berdiskusi. Dan area ini terbuka untuk siapa pun. Di sinilah kolaborasi bisa terjadi.

Selain itu, OVO juga menyediakan function hall. Function hall ini biasa digunakan untuk acara komunitas-komunitas teknologi yang diundang dari luar OVO. Di sini cukup disediakan bag chair, kemudian nanti diedarkan pizza untuk yang hadir di situ.

OVO juga memiliki recreation area, yaitu sebuah spot kecil di mana karyawan bisa main ping pong atau game, misalnya. Karyawan bisa main di situ kapan saja, tidak ada batasan. Seperti perusahaan lain, OVO juga menyediakan nursery room. Di sinilah ibu-ibu yang memiliki bayi biasanya bertemu, ngobrol ini dan itu. Namun dari obrolan ini akan tercipta keakraban yang akan menjadi tumpuan untuk terjalinnya kolaborasi. OVO juga memiliki self-service pantry. Di sini disediakan coffee maker, pemanggang roti, atau alat masak sederhana lainnya.

Apa yang bisa dipelajari dari OVO?

Pola pikir digital bukan hanya kemampuan untuk menggunakan teknologi. Sebaliknya, pola pikir digital merupakan seperangkat sikap dan perilaku yang memungkinkan orang dan organisasi untuk melihat kemungkinan di masa depan.

Beberapa mantra untuk membangun budaya kolaboratif berdasarkan praktik di OVO adalah:

  • Tetapkan target yang ambisius dan jelas, selaras dengan nilai-nilai dan pemberdayaan—menggabungkan pendekatan top down dan bottom up.
  • Jadikan pekerjaan menyenangkan selayaknya waktu hidup pribadi Anda dan sebaliknya.
  • Manfaatkan teknologi sebagai enabler-seamless, lebih cepat, dan dapat diandalkan.
  • Sediakan ruang dan fasilitas kerja yang memadai.

Itulah yang dilakukan OVO untuk membangun budaya kolaborasi. Perusahaan atau organisasi yang dilakukan di OVO melakukan fine tuning sesuai dengan kondisi masing-masing seperti kesiapan SDM dan

ketersediaan infrastruktur. [M]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Warning: file_put_contents(/home/majn3576/public_html/wp-content/uploads/wpdm-cache/session-9f9e1912fa4c9954119fb168983ee863.txt): failed to open stream: Disk quota exceeded in /home/majn3576/public_html/wp-content/plugins/download-manager/libs/class.Session.php on line 75