KOLABORASI UNTUK PERTUMBUHAN BISNIS

Era VUCA (volatile, uncertainty, complexity, ambiguity) mengharuskan perusahaan beradaptasi secara cepat terhadap perubahan lingkungan, terutama pasar. Tuntutan itu hanya bisa dipenuhi apabila perusahaan menjadi lebih gesit. Kegesitan tersebut salah satunya bisa dicapai apabila perusahaan dapat membangun kolaborasi, baik internal maupun eksternal.

Kolaborasi internal berarti perusahaan harus dapat membangun kerja sama lintas bisnis, divisi, fungsi, cabang, atau anak perusahaan. Kolaborasi eksternal berarti kerja sama dengan perusahaan atau organisasi lain untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar dan pemangku kepentingan lain secara lebih baik.

Kalau kita melihat praktik dan membaca hasil penelitian, paling tidak ada tiga cara untuk membuat kolaborasi bisa berhasil. Pertama adalah dengan pendekatan psikologis individual, yaitu mendorong individu untuk berperilaku kolaboratif dengan cara dilatih untuk bisa melakukan kolaborasi (lihat artikel “Pelatihan untuk membangun kolaborasi”).

Kedua adalah dengan membuat sistem yang mendorong orang untuk berkolaborasi, misalnya bisa membuat sistem kompensasi atau evaluasi kinerja, maupun sistem fisik (Lihat artikel “Kantor terbuka dan kolaborasi”). Ketiga adalah menyediakan alat agar karyawan bisa berkolaborasi dengan mudah (Lihat artikel “Kolaborasi cerdas menggunakan analytics”).

Kolaborasi ini memang tidak bisa dilepaskan dengan perkembangan teknologi kolaborasi. Pada rubrik Riset, kami menyajikan hasil McKinsey Global Survey mengenai perubahan kerja kolaboratif akibat majunya social tool/application.

Pada perusahaan yang sedang melakukan transformasi digital atau melakukan inovasi digital, kolaborasi tidak bisa ditinggalkan, baik internal maupun eksternal (Lihat Rubrik Wawancara).

Akhirnya, semoga pembaca dapat mengambil manfaat dari isi majalah ini. Selamat membaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *