Pengembangan Karyawan Era Digital

Seorang manajer pengembangan SDM perusahaan telekomunikasi dalam sebuah wawancara  dengan Manajemen baru-baru ini mengungkapkan bahwa organisasinya tidak lagi mengirim karyawannya untuk mengikuti program S2. Alasannya sederhana: mahal, memakan waktu, dan hasilnya tidak menjawab kebutuhan spesifik perusahaan.

Bayangkan, untuk mengikuti S2, perusahaan harus mengeluarkan biaya sekitar Rp150 juta per karyawan. Selain itu, karyawan yang belajar harus meninggalkan waktu kerja sekitar 18 bulan. Lebih repot lagi, tidak semua ilmu yang dipelajarinya bisa diterapkan.

Daftar Isi

Perusahaan ini kemudian memutuskan untuk mengirim karyawannya ke kursus-kursus pendek spesifik, baik bidang teknis maupun manajerial, sesuai kebutuhan. Hasilnya langsung diterapkan dan dipantau oleh atasannya.

Untuk pengembangan kompetensi manajerial, perusahaan meramu berbagai kursus menjadi suatu program pengembangan kompetensi dengan beberapa ragam nama, seperti Executive Development Program (EDP) atau  Senior Management Development Program (SMDP). Agar efisien, perusahaan ini mendorong karyawannya untuk mengambil kursus online.

Bidang pekerjaan yang berubah cepat menuntut karyawan untuk terus memperbarui dan bahkan mengubah keterampilannya terus-menerus. Keterampilan lama, sangat cepat usang. Untungnya, perkembangan teknologi memungkinkan lahirnya model-model baru pembelajaran korporasi yang lebih tepat.

Majalah Manajemen edisi kali menyajikan model-model baru pembelajaran korporasi yang sesuai dengan tuntutan pekerjaan di era digital. Pada rubrik fokus utama, kami perkenalkan berbagai model tersebut, seperti personal learning cloud (PLC), microlearning, pembelajaran sosial (belajar dari orang lain). Pada rubrik fokus, kami hadirkan tren pengembangan eksekutif di Indonesia dan pemanfaatan kursus MOOC (massive open online learning).

Pada rubrik wawancara, kami menghadirkan Indra Utoyo, Direktur Digital, Teknologi Informasi dan Operasi Bank BRI yang mengisahkan strategi transformasi digital di bank tersebut. Dengan lahirnya teknologi digital, pelayanan bank bergeser dari berbasis cabang ke mobile (smartphone). Bank BRI yang telah membangun basis cabang di seluruh Indonesia, kini harus melakukan transformasi mendasar. Bagaimana strateginya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *