Mengenal Gen Z Global dan Lokal

Siti Nuraisyah Suwanda

Core Faculty Sekolah Tinggi Manajemen PPM

Selama beberapa tahun terakhir, dunia bisnis telah berfokus pada populasi Generasi Milenial atau Gen Y. Generasi ini lahir pada rentang tahun 1980-an hingga 1995. Informasi-informasi, seperti karakteristik secara umum, perilaku sebagai konsumen, perilaku dalam pembelajaran, sampai perilaku mereka sebagai karyawan diteliti dalam ribuan–mungkin ratusan ribu– penelitian di seluruh belahan dunia. Tentunya informasi tersebut dibutuhkan agar generasi sebelumnya mengetahui cara yang tepat dalam memasarkan pada Gen Y sebagai konsumen, mengerti cara mendidik mereka sebagai siswa, dan memahami cara yang tepat untuk merekrut mereka sebagai karyawan.

Namun, sudah saatnya Generasi Milenial “turun takhta”. Pasalnya, Gen Z yang disinyalir memiliki pengaruh masif telah tampil. Berdasarkan data dari UN Population, jumlah Gen Z diperkirakan akan mencapai 32% dari seluruh populasi dunia, melebihi generasi Y yang diperkirakan akan mencapai 31,5%. Gen Z ibarat kekuatan baru yang sedang mengubah lanskap dunia.

Gen Z adalah generasi penerus Gen Y. Beberapa mendefinisikan Gen Z sebagai generasi yang lahir antara tahun 1995 sampai 2004. Ada yang mendefinisikan Gen Z sebagai generasi yang lahir pada tahun 1993 sampai 2005 atau bahkan generasi yang lahir pada rentang tahun  1996 hingga 2010. Yang jelas, Gen Z adalah generasi yang lahir post-digital; lahir setelah internet ada.


GEN Z ≠ GEN Y

Sebelum istilah Gen Z banyak dikenal orang, generasi ini dianggap sama dengan Gen Y. Berikut ini merupakan beberapa asumsi yang salah kaprah mengenai dua generasi tersebut. 

Keduanya merupakan generasi yang akrab dengan internet
Berbeda dengan karakteristik generasi-generasi sebelumnya, Gen Y dan Gen Z memang relatif akrab dengan internet, bahkan bisa dibilang tidak bisa hidup tanpa internet. Padahal faktanya, Generasi Milenial sempat hidup di periode sebelum internet lahir dan berkembang.

Generasi Milenial pada awal kehidupannya belum mengenal internet. Internet pertama kali dijual terbuka pada tahun 1992 oleh perusahaan Paman Sam, yaitu Sprint Corporation. Internet mulai menyebar ke masyarakat pada ± tahun 1995 dan Google pertama kali diluncurkan pada tahun 1998.

Sebelum internet banyak digunakan, Milenial merupakan generasi terakhir yang sempat bermain bersama teman-teman sekomplek sehabis pulang sekolah. Mereka merupakan generasi yang menonton televisi sebagai sumber informasi dan hiburan di masa kanak-kanaknya. Generasi ini mulai mengenal internet pada masa-masa sekolah melalui dial up internet.

Sedangkan Gen Z tumbuh dan berkembang saat internet sudah mengakar di masyarakat. Mereka tidak pernah tahu kehidupan sebelum Google. Mereka tampaknya juga tidak pernah merasakan sensasi datang ke kantor pos untuk mengirim surat. Mereka tumbuh dengan Facebook sebagai media sosial utama di dunia, tanpa merasakan bereksperimen dengan media yang “90s banget,” seperti Friendster atau MySpace.

Keduanya merupakan generasi pengguna smartphone
Faktanya, Gen Y merupakan generasi yang sempat besar tanpa smartphone. Senior generasi ini bahkan sempat mencicipi pager. Mayoritas Gen Y memiliki brand Sony Ericsson dan Nokia sebagai handphone pertamanya; dua brand yang saat ini sudah redup.

Gen Z berkembang bersama dengan smartphone. Senior generasi post-digital ini kira-kira berusia 11 tahun saat iPhone pertama diluncurkan dan menjadi fenomena dunia di tahun 2007. Pada tahun 2010, media sosial menjadi mainstream dan beberapa platform lain, seperti Pinterest, Instagram, dan Snapchat muncul. Resmi sudah, generasi ini menjadi satu dengan media sosial dan mobile technology.

Keduanya memiliki perilaku yang sama sebagai konsumen
Kedua generasi ini memiliki perbedaan yang kontras dengan Generasi X. Generasi yang lahir pada tahun 60-an hingga awal 80-an ini memiliki karakter yang sangat mementingkan nilai dari suatu produk. It’s all about cost efficiency.

Jika dibandingkan dengan Gen X, Milenial dan Gen Z menjadi relatif “beti” atau beda tipis. Keduanya sama-sama cerdas dan akrab dengan teknologi. Namun, fenomena sosial dan global yang terjadi membentuk perilaku konsumen yang berbeda di antara keduanya. Milenial merupakan generasi yang mementingkan nilai, namun juga mementingkan experience dan authenticity. Oleh karena itu, produk yang menarik adalah produk yang memiliki cerita. Jadi, content marketing bisa dibilang memiliki peranan vital jika ingin masuk ke hati para milenial.

Dibandingkan dengan dua generasi sebelumnya, Gen Z merupakan generasi yang serba mobile dan serba social. Sebagai konsumen, nilai tidak begitu penting dan content marketing saja tidak cukup untuk membuat generasi ini membeli suatu produk.

Dengan mereka, interaksi dan engagement kuncinya. Selain itu, generasi ini juga memiliki koneksi yang erat dengan influencer atau key opinion leader (KOL). Uniknya, berbeda dengan generasi sebelumnya, yang menjadi influencer Gen Z adalah seleb media sosial.

Salah kaprah yang terakhir ini merupakan salah kaprah yang harus dihindari oleh pebisnis. Beda generasi, beda perilaku konsumen, beda pula peluang komersial yang dimilikinya. Dengan memahami karakter Gen Z sebagai konsumen, memasarkan produk idealnya menjadi lancar. Terlebih lagi dengan jumlahnya meningkat secara eksponensial, wajib hukumnya mempelajari generasi ini.


KARAKTER GEN Z SECARA GLOBAL

Barkley Gen Z Insight Center merupakan salah satu pusat kajian ternama di Amerika Serikat yang berfokus pada Gen Z. Pusat kajian ini telah menjadi pakar dan mitra perusahaan-perusahaan besar dan melakukan riset global khusus untuk generasi sesudah milenial.

Insight Center ini memiliki istilah lain untuk Gen Z, yaitu Pivotal Generation, karena karakternya yang seolah-olah melakukan pivot; berotasi menjauh dari generasi sebelumnya. Gen Z atau Pivotals menjunjung tinggi diversitas, logika, keluarga, dan intelektual.

Secara global, mereka merupakan generasi pekerja keras. Tumbuh bersama teknologi pun membuat mereka terbiasa hidup secara open minded dan efisien. Berikut ini adalah beberapa info penting mengenai Gen Z atau Pivotal Generation global hasil riset Barkley Gen Z Insight Center.

  1. Memiliki impact yang besar

Generasi ini merupakan generasi dengan keberagaman yang tinggi. Di negara-negara maju, Gen Z terdiri dari berbagai komposisi ras dan etnis yang jauh lebih beragam dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Saat ini, warga keturunan Asia dan Hispanik di Amerika Serikat mencapai jumlah terbanyak sepanjang sejarah. Organic movement yang menggalakkan keberagaman juga lebih banyak dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Oleh karena itu, tingkat toleransi generasi ini tertinggi jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Exposure yang tinggi pada beragam platform informasi membuat karakteristik Gen Z menjadi  open minded dan terbiasa untuk speak up. Platform media sosial, khususnya, menjadi saluran bagi mereka untuk  mengekspresikan diri. Tidak sedikit Gen Z yang menjadi influencer melalui media sosial. Oleh karena itu, generasi ini sangat vokal. Mereka ingin didengar. Mereka ingin memiliki pengaruh besar, baik itu di kehidupannya sendiri, kehidupan sosial, maupun kehidupan berkeluarga. Platform yang ada menjadi enabler.

Secara global, Pivotals diperkirakan memiliki buying power sebesar $143 miliar. Bayangkan, generasi ini memiliki jumlah dan buying power yang besar. Mereka juga open minded dan terbiasa untuk speak up. Ditambah lagi keeratan mereka dengan internet dan teknologi. Resmi sudah, generasi ini adalah kekuatan yang harus diperhitungkan saat ini. A new force to be reckon with.

Connor Blakley merupakan salah satu contoh Gen Z di Amerika Serikat yang memiliki impact besar. Pada usia 17 tahun, ia menyadari adanya peluang masif Gen Z. Ia kemudian mendirikan brand dan memproklamasikan diri sebagai pakar Gen Z dan mendirikan perusahaan konsultan untuk membantu perusahaan-perusahaan besar memahami Gen Z agar bisa menggaet mereka menjadi lifelong consumer yang loyal.

Connor merupakan salah satu dari sekian banyak Pivotals yang memiliki karier melejit di usia muda. Banyak platform yang bisa dipergunakan untuk mendapatkan perhatian dunia dan mendapatkan power dan dukungan masyarakat. Di luar sana ada jutaan Connor Blakley. Ini belum memperhitungkan Gen Z yang menjadi influencer dengan menggunakan medsos Instagram dan/atau Youtube, pula.

  1. “Sepaket” dengan medsos dan smartphone

Pivotals tidak pernah tahu dunia tanpa akses internet, smartphone, dan tablet. Akses informasi tanpa batas membuat mereka terbiasa untuk berpikir kritis dalam segala hal. Mereka pun cenderung memilih all things internet yang sifatnya interaksi. Ingat, generasi ini ingin didengar. Dan hal ini tercermin dalam perilaku online dan perilaku mereka sebagai konsumen.

Kembali lagi, generasi ini menjadi sangat tergantung pada smartphone dan medsos, yang menjadi sumber informasi utama mereka. Smartphone merupakan gerbang penghubung mereka dengan dunia luar. Smartphone menjadi enabler mereka untuk meningkatkan kecerdasan. Oleh karena itu, generasi ini bisa dibilang “sepaket” dengan medsos dan smartphone. Tidak bisa dipisah. Bahkan, pada kasus ekstrem tidak sedikit Gen Z yang mengidap suatu penyakit kejiwaan berjenis fobia bernama nomophobia, yang merupakan singkatan dari “no-mobile-phone phobia”

  1. Berjiwa matang di usia muda

Gen Z tidak sama dengan Milenial. Meski memiliki attention span yang tidak tinggi, generasi ini memiliki kesamaan mindset dengan generasi kakeknya dibandingkan dengan Milenial. Pivotals merupakan generasi pekerja keras, memiliki kesungguhan dan aspirasi sukses. Khususnya soal karier, keuangan, pendidikan, dan prestasi pribadi. Sebagai contoh, 21% Gen Z di AS telah memiliki rekening tabungan saat usia mereka di bawah 10 tahun.

Generasi ini memang tidak bisa dipisahkan dengan medsos dan smartphone. Namun, generasi ini menjunjung tinggi privasi. Mereka lebih selektif dalam membagikan informasi ke medsos, tidak seperti Milenial yang memiliki karakter untuk “share everything” khususnya di medsos Facebook.

Gen Z juga berprinsip kualitas lebih baik daripada kuantitas. Sebagian besar memilih medsos yang lebih eksklusif dan memiliki fitur sharing pada teman dan kerabat dekat, seperti Instagram dan Snapchat. Mereka juga mengerti bahwa terlalu banyak menggunakan medsos berdampak buruk bagi kehidupan.

Pivotals memiliki 2 konsep identitas diri: di dunia nyata dan di dunia maya. Generasi ini mengerti bahwa identitas mereka di dunia maya menjadi refleksi diri di dunia nyata. Orang-orang akan menilai identitas mereka dari kumpulan semua hal yang mereka posting di internet. Oleh karena itu, seluruh hal yang mereka lihat dan tayangkan diseleksi dengan baik.

  1. It’s all about Brand Me

Gen Z mencari brand yang mencerminkan diri dan brand yang dapat memberi sense of purpose. Brand yang mendukung dan meningkatkan identitas dirinya, atau istilahnya adalah Brand Me. Oleh karena itu, marketer Gen Z harus bisa memposisikan dirinya sebagai teman bagi mereka dalam mencari Brand Me, tentunya dengan interaksi dua arah agar para Pivotals dapat menyuarakan pendapatnya.

Generasi ini sangat update pula untuk urusan style dan fashion. Hal ini berhubungan dengan jumlah exposure yang mereka dapat. Karena terekspos pada intensitas dan frekuensi yang tinggi, sebagian dari generasi ini menjadi sangat conscious terhadap penampilan, baik di dunia nyata maupun penampilan di dunia maya. Hal ini dilengkapi dengan konsep diri mereka soal identitas. Pebisnis industri fashion seringkali memanfaatkan hal ini dengan membuat tren viral yang dipimpin oleh influencer medsos.

KARAKTER GEN Z LOKAL

Karakter Gen Z di Indonesia kurang lebih sama dengan Gen Z di negara lain. Akrab dengan teknologi, sama-sama terbiasa untuk speak up, melek finansial di usia dini (dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya), memiliki banyak platform untuk berkarya dan memberi impact pada lingkungan, dan lain-lain.

Banyak Gen Z yang sudah berkarya sejak kecil. Jumlah influencer generasi ini tidak terhitung banyaknya. Influencer muda ini memanfaatkan platform media sosial, seperti Youtube, Instagram, Tiktok, dan lain sebagainya. Dengan memanfaatkan medsos yang ada, mereka berhasil mendapatkan followers sesama Gen Z lain dan juga mendapatkan endorsement dari banyak brand. Misalnya saja Bowo Tiktok yang terkenal dari medsosi Tiktok dan Clarice Cutie yang memanfaatkan Youtube dan Instagram sebagai platform. Masih ada ribuan influencer Gen Z lainnya.

Tak hanya prestasi sebagai influencer, ada juga contoh Gen Z yang berprestasi hingga ke tahap internasional. Sebut saja Joey Alexander si pianis cilik kelahiran tahun 2003 yang mumpuni. Joey telah mendapat nominasi Grammy Awards, ajang music paling bergengsi di dunia. Ada pula Rich Brian kelahiran tahun 1999, musisi hip hop yang namanya telah malang melintang dan memiliki fanbase internasional.

Secara umum, Gen Z memang memiliki potensi yang tinggi. Hasil studi global mengenai Gen Z yang diprakarsai oleh perusahaan teknologi, Dell Technologies pada tahun 2019 menyatakan bahwa tingkat kepercayaan diri Gen Z Indonesia lebih tinggi dari yang lain.

Tingkat kepercayaan diri Gen Z Indonesia mencapai 69%, lebih tinggi dari rata-rata Z di Asia Tenggara (62%) dan global yang hanya 52%. Hal ini dibantu dengan literasi teknologi yang tinggi secara tidak langsung membuktikan bahwa generasi muda ini siap menjadi bagian transformasi digital nasional di masa depan.

Tiga platform sosial yang paling banyak digunakan generasi ini adalah Instagram, Youtube, dan Line. Hal ini berbeda dengan Milenial yang masih banyak menggunakan Facebook. Gen Z juga tergila-gila dengan fitur microstorytelling, yaitu fitur sharing dalam waktu atau tempat yang terbatas. Itulah sebabnya Instagram digilai mereka. Beberapa waktu terakhir ini Snapchat juga sempat booming di kalangan Gen Z kota besar.

Hal yang patut disayangkan dari generasi penerus Milenial Indonesia adalah rendahnya tingkat literasi buku. Generasi ini lebih suka menonton film atau serial dibandingkan harus membaca buku yang tebal dan notabene menghabiskan lebih banyak waktu. Mereka juga terbiasa membaca artikel pemberitaan online yang serba instan, seperti website Koran online dan Line Today.

Tak kenal maka tak sayang. Berikut adalah beberapa poin penting yang harus digarisbawahi generasi-generasi senior untuk bisa kenal dan akrab dengan Gen Z, baik dari perspektif bisnis, akademis, maupun human capital korporat.

  1. Berganti peran dari “menggurui” menjadi peran yang lebih supportif dan interaktif.
  2. Dukung dan angkat isu-isu yang penting untuk meningkatkan sense of purpose.
  3. Beri ruang agar Gen Z mampu berkreasi dan memberi solusi.
  4. Gunakan berbagai platform sosial termasuk influencer sebagai “pintu masuk.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *