Mengelola Generasi Z

Dr. Maharsi Anindyajati, M.Psi.

Psikolog, Konsultan Manajemen PPM Manajemen

Isu mengenai bagaimana mengelola  3 generasi di dunia kerja, yaitu Baby Boomers, Gen X, dan Gen Y masih hangat dibicarakan. Adanya 3 generasi dengan karakteristik berbeda yang dalam waktu bersamaan bekerja di organisasi memang memerlukan penanganan tepat dari manajemen agar kinerja organisasi terjaga dengan baik.

Hal ini disebabkan karena setiap generasi memiliki perspektif yang berbeda mengenai pekerjaan, keinginan yang berbeda mengenai cara mengelola pekerjaan dan dikelola oleh manajemen. Adanya perbedaan antara karakter milenial dengan generasi sebelumnya memaksa organisasi untuk mengeksplorasi cara-cara yang sesuai dalam pengelolaan human capital-nya.

Saat kita masih kebingungan mencari pola yang tepat untuk mengelola generasi Y atau para milenial, tanpa kita sadari, kelompok generasi baru sudah siap memasuki dunia kerja. Mereka adalah kelompok generasi Z atau sering disebut post-millenial.

Tahun kelahiran Generasi Z dari beberapa referensi cukup bervariasi. Beberapa asosiasi dan lembaga di Amerika mengkategorikan Gen Z sebagai generasi yang lahir setelah tahun 1997, sedangkan di Asia menetapkan bahwa Gen Z lahir mulai tahun 2001.

Perbedaan ini sangat mungkin karena kelompok generasi di setiap negara pada dasarnya memiliki karakteristik yang berbeda, tergantung kondisi sosial ekonomi, politik, budaya, dan latar belakang sejarah negara kelahirannya. Akan tetapi, dengan adanya globalisasi dan evolusi teknologi, maka generasi Z secara universal memiliki banyak kemiripan karakter.

Generasi Z adalah digital natives, generasi yang sejak lahir telah terpapar oleh internet, jejaring sosial (social network), dan sistem seluler. Mereka tumbuh dalam kondisi mereka dapat berkomunikasi dengan siapa pun di berbagai belahan dunia melalui jaringan media sosial.

Perangkat elektronik bukan lagi kemewahan bagi mereka, namun sebuah kebutuhan. Generasi Z adalah generasi yang dengan mudah beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Mereka lebih memilih untuk berinteraksi di dunia maya dibanding dunia nyata.

Mereka lahir dan tumbuh di dunia yang serba instan. Dari mulai jenis makanan hingga moda transportasi. Mereka tidak perlu mengerahkan banyak upaya untuk mendapatkan hal yang mereka inginkan. Tidak mengherankan jika mereka sering tidak sabar dengan proses, mereka ingin hasil yang cepat. Menjadi youtuber atau influencer dengan penghasilan spektakuler tanpa perlu jenjang pendidikan yang tinggi dan masa studi yang lama pun menjadi cita-cita kebanyakan generasi Z ini.

Generasi Z lahir di alam kebebasan, di mana rezim otoriter tidak lagi berkuasa. Mereka pun dididik dalam kebebasan, dilatih sejak kecil untuk mengekspresikan keinginan dan pendapat mereka. Dengan mudahnya akses informasi dan kebebasan berpendapat, tidak mengherankan mereka menjadi sangat kritis dengan berbagai hal. Hal ini menyebabkan mereka sangat memerlukan penjelasan logis terhadap adanya sebuah aturan.

Karakter khas Gen Z lainnya adalah kebutuhan yang tinggi akan pengakuan. Pada dasarnya, manusia memang memerlukan pengakuan, dan ini sangat penting bagi kepercayaan diri individu. Akan tetapi, kebutuhan akan pengakuan pada generasi Z sangatlah tinggi.

Mereka dibesarkan di lingkungan yang senantiasa memberikan penghargaan. Orang tua terbiasa memuji perilaku positif mereka. Berbagai kompetisi menyediakan jumlah penghargaan yang sama dengan jumlah peserta. Mereka terbiasa mendapatkan penghargaan dan pengakuan sekecil apa pun usaha yang mereka kerahkan.

Sudah merupakan hal yang sering kita jumpai jika mereka sangat terpengaruh dengan jumlah orang yang menyukai unggahan mereka di media sosialnya.  Di satu sisi, hal ini meningkatkan kepercayaan diri mereka, akan tetapi juga menjadi bumerang terhadap daya juang mereka. Jika tidak terbiasa dengan kegagalan dan kekalahan, mereka mudah menyerah, kurang mampu menjadikan kendala dan hambatan dalam mencapai cita-citanya sebagai cara untuk meningkatkan kemampuannya.

Kleinschmit, 2019

Hal yang juga unik pada generasi Z adalah pola asuh orangtua. Orangtua dari generasi Z mendampingi anaknya dalam melakukan berbagai aktivitas. Anak adalah pusat perhatian keluarga. Banyak orangtua dari generasi Z memiliki tipe pengasuhan helicopter parents, orangtua yang senantiasa berada di sekeliling anaknya dan mengendalikan kehidupan anaknya.

Bukan hal yang aneh saat ini jika terdapat grup whatsapp orangtua di setiap sekolah bahkan hingga perguruan tinggi. Betapa orangtua sangat memantau kondisi anaknya, tidak jarang mengintervensi kebijakan sekolah atau perguruan tinggi agar anaknya mendapat kesempatan atau keuntungan tertentu.

Pada proses seleksi pun, sering dijumpai orangtua yang mengantar bahkan menunggui anaknya hingga tes selesai.  Di satu sisi, ini berarti orangtua sangat peduli dengan kehidupan anaknya, namun di sisi lain dapat berdampak mengebiri kemandirian anak. Anak menjadi sangat tergantung pada arahan pihak yang lebih otoriter.

Generasi Z juga merupakan generasi yang tumbuh di tengah berbagai isu terorisme, ekstrimisme, konflik, dan tentunya LGBT. Berbagai isu ini membuat mereka memiliki persepsi bahwa perbedaan adalah hal yang biasa, bukan sebuah isu yang patut dipermasalahkan.

Jika keragaman bagi Gen Y adalah sebuah nilai yang dianggap penting maka bagi Gen Z keragaman adalah suatu norma. Mereka memandang keragaman, baik itu suku, ras, agama, orientasi seksual, merupakan sesuatu yang normal. Tengok saja teman mereka, biasanya mereka memiliki teman yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Hal ini menyebabkan mereka mudah berkolaborasi dengan berbagai kalangan.

Penelitian yang dilakukan oleh McKinsey & Company menemukan bahwa para Generasi Z ini adalah kelompok yang mencari kebenaran sehingga sering disebut sebagai “True Gen”. Gen Z menghargai ekspresi individual dan menghindari label. Mereka merasa nyaman dengan cara untuk mendeskripsikan dirinya yang lebih dari satu identitas. Mereka menjunjung tinggi kebebasan berekspresi dan keterbukaan yang sangat besar untuk memahami berbagai tipe dan perilaku orang lain.

Dengan adanya karakter di atas, lantas apa yang dapat dilakukan oleh organisasi? Apa yang harus dilakukan oleh manajemen agar menarik dan melibatkan para Gen Z di pekerjaan?

  1. Manfaatkan media sosial untuk proses rekrutmen calon karyawan

Gen Z  dengan mudah mendapatkan informasi dari berbagai platform, kondisi ini juga yang akan mereka lakukan saat mencari pekerjaan. Sebuah survei di Amerika yang dikutip dalam Forbes, menunjukkan bahwa para Gen Z menggunakan media sosial untuk mencari informasi mengenai sebuah produk yang akan mereka beli. Perilaku yang sama tentunya akan mereka tampilkan juga saat mereka mencari informasi tentang perusahaan atau organisasi yang akan mereka lamar. Dengan demikian, sangatlah penting bagi organisasi untuk “mengiklankan” tentang berbagai kegiatan organisasi di media sosial guna mendapatkan perhatian dari para pelamar gen Z.

  1. Keterlibatan langsung dengan para pemimpin

Hubungan yang tidak berjarak antara para Gen Z dengan orangtuanya membuat mereka pun cenderung mengabaikan hierarki yang ada dalam organisasi. Para Gen Z ingin terlibat secara langsung dengan para pemimpin di organisasi mereka. Manajemen pun dituntut untuk secara aktif terlibat dalam perkembangan karier mereka. Manajemen harus menyediakan berbagai program bimbingan, seperti coaching dan mentoring, guna menjaga keterlibatan mereka dalam organisasi.

Program bimbingan ini juga dapat berfungsi untuk meningkatkan kegigihan mereka dalam mengatasi permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan pekerjaannya. Mereka membutuhkan umpan balik secara rutin dari atasannya. Dialog antara atasan dan mereka sebagai bawahan menjadi aktivitas yang mereka tuntut. Hubungan yang positif antara karyawan dengan para pemimpin menjadi salah satu faktor yang penting bagi para generasi Z.

  1. Dialog terkait aturan

Dialog juga merupakan sebuah keharusan saat tata aturan disampaikan kepada mereka. Mereka memerlukan penjelasan mengenai aturan beserta konsekuensinya dan menginginkan kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya terkait aturan.

Mudahnya mereka mendapatkan informasi dan kecenderungan mereka untuk bebas berekspresi akan mendorong mereka untuk bersikap kritis, termasuk kepada aturan yang ditetapkan oleh manajemen. Dengan demikian, aturan yang disusun harus berlandaskan pertimbangan yang tepat, sehingga sangat jelas maksud dan tujuan dibuatnya aturan tersebut.

  1. Pemberian penghargaan dan pengakuan

Jika para Gen Y dahulu harus melakukan dial-up saat melakukan koneksi internet, para Gen Z tidak lagi mengenal hal tersebut. Mereka lahir di dunia yang sudah “banjir” teknologi. Mereka terbiasa menjadi pusat. Tidak hanya pusat perhatian keluarga, namun juga pusat dari arus informasi ditujukan.

Mereka cenderung mengharapkan penghargaan dan pengakuan dari pihak lain. Jika mereka tidak mendapatkannya, maka mereka akan dengan cepat memutuskan pindah. Dengan demikian, manajemen tidak bisa lagi hanya berkutat dengan pemuasan faktor hygiene, namun benar-benar sudah harus lebih memfokuskan pada faktor motivation.

  1. HIndari birokrasi berbelit dan ciptakan cara kerja efektif.

Para Generasi Z tumbuh di era yang serba instan dan cepat dalam berbagai aspek kehidupan lainnya. Gen Z memproses informasi lebih cepat dari generasi sebelumnya akibat penggunaan beberapa aplikasi. Hal ini menyebabkan rentang perhatian mereka menjadi lebih rendah daripada generasi milenial.

Sebuah penelitian menunjukkan rentang perhatian Gen Z hanya 8 detik.  Mereka pun menjadi tidak sabar dengan proses yang mereka nilai lama dan memiliki mindset yang cenderung berorientasi digital. Ini menuntut pihak manajemen dan atasan Gen Z untuk mampu memangkas birokrasi yang berbelit.

Selain itu, proses kerja juga dapat ditingkatkan efektivitas dan efisiensinya dengan menggunakan aplikasi berbasis teknologi yang dapat diakses melalui telepon seluler mereka. Hal ini disebabkan karena Gen Z menggunakan ponsel mereka lebih sering dibanding perangkat lainnya.

Berbagai gambaran di atas menjadi sebuah gambaran umum mengenai karakter generasi Z, namun juga bukan berarti kita terjebak pada stereotip mengenai mereka. Mereka tetaplah individu yang juga memiliki individual differences yang patut dipahami secara mendalam dan personal. Akan tetapi, dengan lebih memahami karakteristik umum generasi Z ini, diharapkan mampu membuat organisasi memahami cara mengelola human capital-nya dengan lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *