Hoax, Panutan, dan Rumor

Martiono Hadianto : Ketua Umum Pengurus Yayasan PPM

Seorang guru SMP di kota Cilegon pada 6 Januari 2019 ditetapkan sebagai tersangka penyebaran berita bohong (hoax) “7 kontainer surat suara tercoblos”. Sekitar sembilan bulan sebelumnya, Mei 2018, seorang dosen di Medan juga diamankan oleh petugas sebagai tersangka kasus hoax dan ujaran kebencianSaat itu, sang hoaxer dan hater itu menyebar tulisan “Bom Surabaya merupakan pengalihan isu terkait pilpres” melalui akun Facebook-nya.

Memang, sejak maraknya penggunaan media sosial, berita bohong dan ujaran kebencian, meluas dan masif. Isunya mulai dari hal-hal sepele (keampuhan obat herbal, misalnya) sampai ke yang sangat serius dan menyentuh kepentingan umum (surat suara tercoblos sebelum pemilu).

Ujaran kebencian disebar dengan sindiran dan lelucon, sampai menggunakan bahasa sarkasme. Dari yang sifatnya temporer (muncul menjelang pilkada atau pemilu, misalnya) dan ada yang berdampak jangka panjang. Ada yang motif penyebarannya sekadar iseng atau ikutikutan, ada yang memang sengaja untuk mencapai tujuan tertentu.

Sebenarnya, berita bohong itu sudah ada di masyarakat sejak lama. Hanya saja, dengan hadirnya teknologi informasi, membuatnya menjadi viral. Sekarang pertanyaannya mengapa di masyarakat kita tumbuh ‘kesenangan’ menyampaikan ketidakbenaran? Padahal kita tahu, tidak ada masyarakat yang memiliki nilai membenarkan kebohongan. Semua agama mewajibkan penganutnya menyampaikan kebenaran. Agama Islam dengan tegas melarang ghibah.

Apabila kita bersedia mencermati, kita akan menemukan sumbernya di sistem pendidikan, baik formal maupun pendidikan keluarga. Sistem pendidikan formal kita lebih menekankan pada pengetahuan rasional dan keterampilan formal. Secara perlahan, tanpa disadari kita meninggalkan pendidikan mengenai adab, kesantunan, etika, dan moral.

Kita melupakan pentingnya kehalusan budi pekerti. Demikian pula di keluarga, orang tua terlalu sibuk bekerja mengejar uang. Mereka sudah puas dengan memenuhi kebutuhan materi anak-anaknya. Pendidikan anak-anak diserahkan sepenuhnya ke sekolah, atau tempat les dan kursus. Sementara pendidikan sehari-hari di rumah dimandatkan kepada pengasuh atau pembantu.

Penyebar hoax tidak kenal profesi, tetapi kita menjadi prihatin ketika pelakunya seorang pendidik. Guru, dalam bahasa Jawa diartikan sebagai digugu (dipercaya) dan ditiru (diteladani). Guru yang baik itu dipercaya oleh murid-muridnya karena menguasai ilmu yang diajarkan dan mampu mengajarkannya. Seorang guru diteladani karena perilakunya yang baik, santun, berbudi, dan etis.

Penguasaan dua faktor itulah yang membuat guru memiliki kedudukan terhormat, baik di mata murid, orang tua murid, dan masyarakat keseluruhan. Demikian pula dengan perilaku seorang dosen, yang memiliki amanah untuk mengajarkan cara berpikir dan berperilaku ilmiah.  Tidak seharusnya mereka menyebarkan informasi tanpa dukungan fakta dan data.

Persoalannya adalah di era media sosial ini, ketika sudah menyebar, hoax sangat sulit dikendalikan. Berita yang ‘menarik’ itu diteruskan oleh penerimanya tanpa dicek terlebih dahulu kebenarannya. Bagaimana mengkonternya? Beberkan fakta dan data yang meyakinkan. Konter tanpa dukungan bukti justru membuat masyarakat bingung dan terlibat dalam debat tanpa kesudahan. Beberapa hoax yang berkaitan dengan isu tidak penting, cukup diabaikan saja. Demikian pula yang sifatnya temporer, ketika peristiwa yang terkait dengan isu tersebut berlalu, hoax pun akan berhenti dengan sendirinya.

Dalam lingkup organisasi, juga sering bermunculan hoax. Kita menyebutnya sebagai rumor, atau desas desus. Di perusahaan selalu ada office politics. Pihak yang memiliki kepentingan tertentu tidak jarang menyebarkan berita bohong, atau informasi menyesatkan. Pemimpin organisasi harus mewaspadai kondisi ini. Apabila berita yang menyesatkan itu tidak dikendalikan, menyebabkan rumor yang kontraproduktif.

Di setiap perusahaan yang memiliki jumlah karyawan cukup besar selalu memiliki serikat pekerja. Menurut pengalaman, perebutan kepentingan yang melibatkan penggunaan rumor terjadi ketika adanya pergantian kepemimpinan serikat pekerja. Metode yang sering saya gunakan adalah mencari sumber rumor. Kemudian didekati dan diajak bicara dari hati ke hati untuk menemukan duduk perkaranya.

Sebagai pimpinan kita harus siap bernegosiasi. Dengan menyentuh hati dan kesediaan untuk bernegosiasi maka diperoleh solusi. Ketika solusi sudah diperoleh, rumor pun berhenti. Dengan rumor yang terkendali, karyawan bisa bekerja lebih tenang dan senang. Mereka bekerja lebih produktif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *