Kompas Strategi Startup

Startup selalu hadir dengan inovasi. Dan inovasi itu, tidak jauh-jauh dari teknologi. Persoalannya adalah bagaimana membawa temuan baru tersebut ke pasar, dan menciptakan model bisnis baru yang bisa diperbanyak dan dibesarkan. Entrepreneur biasanya tidak suka memikirkan strategi jangka panjang yang njlimet karena takut kehilangan peluang. Joshua Gans, Erin L. Scott, dan Stern, menawarkan 4 pilihan strategi yang disebut sebagai Kompas Strategi Startup.

Inti dari pendekatan Kompas Strategi Kewirausahaan adalah pemahaman bahwa strategi masuk ke pasar setiap inovasi melibatkan pilihan: pelanggan mana yang disasar, teknologi apa yang diterapkan, apa identitas organisasi yang digunakan, dan bagaimana memposisikan perusahaan terhadap pesaing.

Perlu diketahui bahwa masing-masing pili­han saling terkait. Pilihan terhadap pelang­gan akan mempengaruhi pilihan identitas organisasi serta teknologi yang diterapkan dan, tentu saja, berpengaruh terhadap posisi yang dipilih dalam persaingan.

Bagi perusahaan yang sudah mapan, menentukan pilihan strategi dapat dila­kukan dengan membuat analisis data yang sudah dimiliki. Mereka juga perlu melakukan riset pasar dan riset lain berjilid-jilid. Dan tentu saja, mereka bisa memanfaatkan pengalaman sebelumnya. Akan tetapi bagi startup yang masih benar-benar baru, tentu tidak memiliki banyak pengalaman dan data internal.

Meskipun demikian, kondisi ‘serba tidak punya’ bisa menjadi keunggulan karena data historis, pengalaman, dan komitmen praktik yang sudah dijalankan dapat menciptakan blind spot, yang membuat perusahaan mapan tidak mampu melihat ancaman inovasi startup.

Startup tetap harus memperhitungkan persaingan, bukan hanya dengan perusahaan yang sudah mapan, tetapi juga dengan sesama perusahaan rintisan. Berikut ini adalah pilihan utama yang harus dipertimbangkan entrepreneur bisnis rintisan ketika akan membawa inovasinya ke pasar.

Berkolaborasi atau berkompetisi?

Bekerja sama dengan pemain yang sudah mapan akan memberi akses ke sumber daya dan rantai pasok, yang memungkin­kan startup masuk ke pasar yang lebih besar dan lebih mapan secara cepat. Dalam berkolaborasi, startup memiliki keunggulan karena tidak perlu terjebak belitan birokrasi. Startup dapat tetap lincah, tetapi memiliki akses ke pasar yang lebih luas. Kelemahannya adalah daya tawar startup di hadapan perusahaan mapan selalu lemah, meskipun dapat diatasi dengan menawarkan proposisi nilai yang menarik.

Apabila memilih untuk berkompetisi dengan yang sudah mapan, startup juga memiliki kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya adalah startup memiliki kebebasan untuk membangun rantai nilai berdasarkan gagasan inovatifnya.

Startup juga memiliki kebebasan lebih besar untuk bekerja sama dengan pelang­gan yang mungkin tidak pernah ter­pikirkan oleh para petahana. Pendek kata tidak ada ikatan untuk mengembangkan kreativitas, membawa inovasi ke pasar, yang meningkatkan nilai untuk pelanggan.  Meskipun demikian, kelemahan strategi ini, berarti startup harus berhadapan dengan perusahaan yang memiliki sumber daya keuangan lebih besar dan infrastruktur yang mapan.

Memperkuat pertahanan atau menyerang lebih dahulu?

Dalam berkompetisi, startup bisa memilih untuk memperkuat pertahanan, atau menyerang lebih cepat. Beberapa perusahaan meyakini, mereka akan memperoleh keunggulan dengan menguasai teknologi dan produk. Mereka menciptakan teknologi atau produk baru yang unggul. Sekadar menjadi pengekor, menempatkan perusahaan dalam kondisi rentan. Oleh karena itu, mereka melakukan investasi besar-besaran untuk melindungi hak kekayaan intelektual yang dimilikinya.

Perlindungan kekayaan intelektual, meskipun mahal, memungkinkan startup berorientasi teknologi membedakan diri dari pesaing atau memegang daya tawar yang lebih besar ketika bernegosiasi dengan mitra dalam rantai pasok. Meskipun demikian, kelemahannya adalah peningkatan pengendalian produk atau teknologi dan perlindungan hak kekayaan intelektual memang mahal.

Sebaliknya, startup bisa memilih strategi untuk membawa inovasinya ke pasar secepatnya dan melakukan komersialisasi, biasanya melalui kerja sama dengan mitra atau pelanggan. Startup yang memilih rute ini harus memprioritaskan kemampuan bereksperimen, melakukan uji coba gaga­san mereka langsung di pasar.

Startup yang fokus masuk ke pasar secara cepat harus sudah siap berkompetisi, dan menggunakan kelincahan mereka untuk merespons ketika muncul ancaman persaingan. Mereka bergerak cepat, dan menerobos masuk.

Kompas Strategi

Peluang strategis untuk startup dapat dikategorikan ke dalam dua dimensi: sikap terhadap petahana (berkolaborasi atau berkompetisi) dan sikap terhadap inovasi (membuat pertahanan atau menyerang lebih awal). Kedua dimensi tersebut menghasilkan empat strategi yang akan memandu startup membuat keputusan dalam hal menentukan pelanggan, teknologi, identitas, dan arena persaingan. Startup dapat memanfaatkan kompas ini untuk mengkomersialkan inovasinya.

4 Keputusan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *