Carlos Ghosn: Juru Selamat yang Tersandung Gaji

Begitulah kenyataan perjalanan karier Carlos Ghosn. Bos Nissan yang dikenal sebagai juru selamat korporasi dari kebangkrutan itu, pada 19 November 2018 ditangkap oleh kejaksaan Tokyo dengan tuduhan menyembunyikan sebagian gajinya dari laporan korporasi. Ghosn melaporkan pendapatannya sebesar 5 miliar yen, atau sekitar 44 juta dolar dalam lima tahun. Padahal Jaksa mencurigai imbal jasa yang diterimanya dua kali lipat dari jumlah tersebut.

Juru Selamat

Hampir semua mahasiswa bisnis mengenal Charles Ghosn. Tulisan mengenai dirinya tersebar di media sejak 2002. Buku mengenai Ghosn yang terkenal adalah The Ghosn Factor dan SHIFT-Inside Historical Nissan Revival. Kisah Ghosn bahkan terbit dalam bentuk komik.

Selain itu, sepak terjangnya dalam penyelamatan Nissan juga menjadi studi kasus yang dibedah di sekolah-sekolah bisnis. “Carlos Ghosn’s Global Leadership” dan “How to Save Business Without Loosing The Company” merupakan dua studi populer yang diterbitkan oleh Harvard Business Review.

Sepanjang kariernya, paling tidak Ghosn telah menyelamatkan tiga perusahaan global, yaitu Michelin, Renault, dan Nissan. Ghosn mengawali kariernya pada 1978 di Michelin, perusahaan pembuat ban terbesar di Eropa. Karena prestasinya, pada usia 30 tahun eksekutif kelahiran Brazil itu ditunjuk menjadi Chief Operating Officer (COO) Michelin wilayah Amerika Selatan.

François Michelin, sang pemilik, mengutus Ghosn dengan misi melakukan turnaround divisi Amerika Selatan yang merugi akibat terpaan hiperinflasi Brasil. Ghosn membentuk tim manajemen lintas fungsi yang terdiri dari warga negara Prancis, Brasil, dan lainnya yang bekerja di divisi Amerika Selatan.

Pengalaman multibudaya di Brasil membentuk dasar gaya manajemen lintas budayanya dan penekanan pada keragaman sebagai aset bisnis inti. Ghosn berhasil membawa kantor wilayah Amerika Selatan Michelin kembali meraih laba.

Selanjutnya Ghosn diminta memimpin Michelin wilayah operasi Amerika Utara, dengan misi mengintegrasikan Uniroyal Goodrich yang baru diakuisisi saat pasar memasuki masa resesi. Ghosn dapat memperbaiki kondisi keuangan sekaligus merestrukturisasinya menjadi ‘perusahaan baru’ yang kokoh.

Pada tahun 1996, Ghosn bergabung dengan Renault, produsen mobil milik pemerintah Perancis yang diprivatisasi. Dia melakukan turnaround setelah Renault merger dengan Volvo. Dia sukses dengan membuat beberapa keputusan kontroversial termasuk penutupan beberapa pabrik di Eropa.

“Pada Maret 1999 saya mendapat telepon dari Louis Schweitzer, CEO Renault, menanyakan apakah saya bersedia terbang ke Tokyo untuk memimpin turnaround di Nissan, raksasa produsen mobil Jepang yang sedang berjuang untuk lepas dari kebangkrutan.” Demikian ungkap Ghosn dalam artikel “How Save Business Without Loosing The Company” yang dimuat dalam Harvard Business Review Januari 2002.

Renault baru saja menjalin aliansi strategis dengan Nissan. Renault berkepentingan untuk memperbaiki kelemahannya di pasar Amerika Utara, sementara Nissan membutuhkan dana untuk menutup utang-utangnya yang menggunung. Dalam kesepakatan tersebut, Renault menggelontorkan dana sebesar US$ 5,4 juta yang dikompensasi dengan kepemilikan saham sebesar 36% saham Nissan. Namun aliansi strategis tersebut akan gagal kalau Nissan terus merugi.

Ghosn sendiri mengatakan kasus Nissan sangat berbeda dengan masalah yang dihadapi pada perusahaan-perusahaan yang diselamatkannya sebelumnya. Ghosn menceriterakan kondisi Nissan:

“Telah delapan tahun Nissan berjuang untuk bisa laba. Marginnya amat sangat rendah. Para analis memperkirakan Nissan merugi US$ 1.000 untuk setiap mobil yang dijualnya di Amerika Serikat karena lemahnya merek. Biaya pembelian (material) di Nissan 15% hingga 25% lebih tinggi dibanding di Renault. Selain beban biaya, kapasitas pabrik jauh melebihi kebutuhan perusahaan.

Pabrik-pabrik di Jepang saja dapat menghasilkan hampir satu juta lebih banyak mobil per tahunnya daripada yang mampu dijualnya. Utang perusahaan, bahkan setelah ada suntikan dana dari Renault, jumlahnya lebih dari US$ 11 miliar. Situasinya do or die: lakukan turnaround atau Nissan hanya tinggal nama.

Proyek turnaround gagasan Ghosn terkenal dengan nama “Nissan Revival Plan”. Proyek penyelamatan dideklarasikan pada Oktober 1999. Targetnya sangat jelas: meraih kembali profitabilitas pada tahun fiskal 2000, margin laba lebih dari 4,5% dari penjualan pada akhir tahun fiskal 2002, dan penurunan utang 50% pada akhir tahun fiskal 2002. Ghosn berjanji untuk mengundurkan diri jika sasaran ini tidak bisa dipenuhinya.

Pada tahun 2002, Ghosn menyatakan upaya turnaround Nissan berhasil mencapai seluruh targetnya.

“Sekarang, kurang dari tiga tahun kemudian, dengan senang saya melaporkan bahwa turnaround berhasil. Nissan kembali menghasilkan laba, dan identitas perusahannya telah tumbuh kuat”,

ungkap Ghosn di Harvard Business Review.

Keberhasilan Ghosn menyelamatkan Nissan yang dianggap sangat fenomenal, mengokohkan dirinya menjadi juru selamat perusahaan-perusahaan global. Posisinya pun melaju menjadi Chairman, bukan hanya di Nissan, tetapi juga di Renault.

Pada Oktober 2016, Nissan mengakuisisi 34% saham pengendali di Mitsubishi Motors. Untuk apa Nissan mengakuisisi saham Mitsubishi? April 2016, Mitsubishi dilanda skandal manipulasi jarak tempuh bahan bakar. Kementerian Transportasi Jepang menemukan beberapa produk Mitsubishi mengkonsumsi bahan bakar lebih tinggi dari yang diiklankan.

Pada investigasi lanjutan, ditemukan pelanggaran yang sama pada dua model mobil yang dibuat oleh Mitsubishi untuk dijual di bawah merek Nissan. Pemerintah Jepang meminta penghentian penjualan model tersebut. Skandal ini menurunkan nilai pasar dan potensi pendapatan Mitsubishi dan Nissan. Kemudian Ghosn didaulat menjadi Chairman Mitsubishi Motor untuk merehabilitasi kondisi Mitsubishi Motor.

Ghosn memimpin aliansi Renault, Nissan, dan Mitsubishi. Konon aliansi strategis ini juga merupakan bagian dari strategi perusahaan-perusahaan kecil pembuat mobil untuk memenangkan persaingan melawan perusahaan besar, seperti Ford dan Toyota. Ketiga perusahaan tersebut menjadi grup mobil terbesar kedua di dunia. Pada tahun 2017, Nissan dan ‘kawan-kawannya’ itu menjual lebih dari 10 juta kendaraan, menggeser Toyota ke posisi ketiga.

Tersandung Gaji

Pada 19 November 2018, para profesional global dikejutkan oleh kabar ditangkapnya Carlos Ghosn oleh kejaksaan Tokyo. Jaksa menggerebek kantor Nissan pada hari penangkapannya. Alasan penangkapan jaksa hanya satu, yaitu Ghosn dicurigai tidak melaporkan sebagian pendapatannya. Sejak 2010, Jepang menerapkan undang-undang yang mengharuskan perusahaan mengungkapkan gaji para eksekutif yang penghasilannya lebih dari 100 juta yen.

Laporan sekuritas tahunan Nissan mengungkapkan, pada tahun 2014, Ghosn dibayar sekitar US$ 9,1 juta; di 2015 US$ 9,5 juta; dan pada 2016 mencapai US$ 9,7 juta. Tetapi tahun 2017, laporan pendapatannya merosot sekitar 33% menjadi US$6,5. Ghosn juga menerima US$ 1,9 juta dolar dari Mitsubishi Motor sebagai remunerasi resmi di fiskal 2017. Renault juga membayarnya terpisah.

Pada Juni 2017, Ghosn menjelaskan kepada pemangku kepentingan mengenai gajinya: “Renumerasi eksekutif diputuskan setelah menganalisis pencapaian, kontribusi terhadap perusahaan, dan gaji di perusahaan global lain yang skalanya sama dengan Nissan.”

Lalu apa alasannya Ghosn sampai harus ‘menyembunyikan’ sebagian gajinya? Pada Juni 2008, dalam sebuah rapat pemegang saham Nissan memutuskan untuk membatasi total kompensasi kepada semua direktur sebesar 2,99 miliar yen per tahun. Ghosn bewenang untuk memutuskan kompensasi kepada setiap eksekutif dalam batas jumlah itu. Beberapa sumber mengatakan Ghosn menerima 2 miliar yen per tahunnya hingga 2010. Sedangkan eksekutif lainnya menerima sekitar 100 juta yen per tahun.

Setelah undang-undang mensyaratkan pengungkapan pendapatan di laporan tahunan, Ghosn bekerja sama dengan Greg Kelly, Representative Director, untuk melaporkan pendapatannya 1 miliar Yen per tahun. Dia telah mengatur agar sisa pendapatan 1 miliar Yen per tahun dibayarkan belakangan setelah pensiun. Sisa gaji 1 miliar Yen per tahun dibukukan dalam rencana kompensasi pensiun. Diperkirakan Ghosn tidak melaporkan sekitar 8 miliar yen ($ 70,8 juta) dari tahun fiskal 2010 hingga 2017 (walaupun jaksa hanya menyelidiki selama 5 tahun terakhir).

Tentu dalam benak kita masih muncul pertanyaan kembali. Mengapa harus menyembunyikan 1 miliar Yen per tahun untuk gaji yang sah diterimanya? Sumber di kejaksaan Tokyo mengatakan bahwa Ghosn khawatir moral kerja karyawan akan turun setelah mengetahui besarnya gaji para eksekutif. Selain itu, publik juga akan bereaksi atas ketimpangan gaji di antara para ekseskutif dan antara eksekutif dengan karyawan.

Urusan Ghosn dengan kejaksaan memang murni soal pelaporan gaji. Namun, CEO Nissan Hiroto Saikawa menyatakan perusahaan sedang menyelidiki dugaan terhadap tiga pelanggaran oleh Ghosn berdasarkan laporan dari whistleblower. Ketiga pelanggaran tersebut adalah:

  • Pertama, tidak melaporkan pendapatannya pada laporan aset sekuritas.
  • Kedua, membelanjakan modal investasi perusahaan untuk keperluan pribadi dan menyembunyikan tujuan tersebut.
  • Ketiga, penggunaan dana pengeluaran perusahaan untuk penggunaan pribadi.

NHK, kantor berita Jepang, telah mempelajari bahwa Ghosn mungkin juga menyalahgunakan dana perusahaan. Menurut NHK, Nissan menyediakan rumah bagi chairman-nya tersebut di 4 negara tanpa alasan bisnis yang sah. Rumah tersebut berada di Rio de Janeiro, Paris, Amsterdam dan Beirut.

Pada 22 November 2018, Dewan Direksi Nissan menggelar pertemuan darurat di kantor pusatnya Yokohama untuk menentukan perusahaan terhadap Ghosn. Setelah melewati pemungutan suara secara anonim, mereka sepakat untuk memberhentikan orang yang pernah menyelamatkan perusahaan mereka itu. Seminggu kemudian, Dewan Direksi Mitsubishi Motors mengambil tindakan yang sama, memberhentikan Ghosn.

Atas peristiwa itu, Hiroto Saikawa menyatakan Nissan harus merombak tata kelolanya agar kekuasaan tidak terpusat pada satu atau dua orang. Para pengamat juga menyimpulkan bahwa tata kelola Nissan termasuk paling rapuh di antara perusahaan-perusahaan di industri mobil Jepang.

Ketika artikel ini ditulis, Ghosn telah ditahan selama 10 hari di penjara Tokyo. Jaksa bahkan akan menangkap kembali setelah masa penahanan selesai, dengan ditemukannya indikasi jumlah gaji yang tidak dilapokan Ghosn melampaui 9 miliar Yen. [] RML

*Tulisan dimuat pada majalah Manajemen edisi Desember 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *