Luwes, Lentur, Kuat, dan Cepat

Cover Edisi November 2018

Sejak satu dasawarsa terakhir ‘seleksi alam’ terhadap keberlangsungan hidup organisasi berjalan lebih ketat dibanding masa-masa sebelumnya. Organisasi-organisasi birokratis model mesin yang dibangun untuk menciptakan produk/jasa massal gagal merespons perubahan lingkungan.

Sejak satu dasawarsa terakhir ‘seleksi alam’ terhadap keberlangsungan hidup organisasi berjalan lebih ketat dibanding masa-masa sebelumnya. Organisasi-organisasi birokratis model mesin yang dibangun untuk menciptakan produk/jasa massal gagal merespons perubahan lingkungan.

Kini orang terkagum-kagum melihat inovasi model bisnis Google, Netflix, Microsoft dan berbagai perusahaan teknologi lain. Organisasi semacam apa yang mampu menjawab tantangan zaman? Para ahli menyebutnya sebagai agile. Agile secara harfiah bermakna lincah atau gesit, namun mengandung juga pengertian luwes, lentur, cepat, dan kuat. Ibarat organisme hidup, organisasi agile menjadi semakin kuat, lentur, dan cepat gerakannya ketika mendapatkan tekanan yang kuat. Ibarat bakteri yang diserang mengunggunakan zat antibiotik, bukannya mati atau melemah, tetapi justru menjadi kebal dan makin ganas.

Model organisasi agile pertama kali dirintis untuk inovasi pengembangan software. Karena dianggap relevan dengan kondisi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), kini mulai diadopsi dalam organisasi skala luas. Penelitian yang dilakukan oleh McKinsey menunjukkan bahwa sebagian organisasi besar di seluruh dunia telah menerapkan model agile pada unit-unit tertentu, dan masih berusaha mengembangkannya pada skala yang lebih luas.

Kami hadir di edisi November 2018 dengan mengusung tema “Organisasi Gesit”. Tema ini berkaitan dengan penelitian Model Transformasi Organisasi Indonesia yang dijalankan oleh PPM Manajemen pada tahun 2017. Penelitian ini membuktikan kemampuan tanggap lingkungan menjadi salah faktor penentu keberhasilan transformasi organisasi.

Melalui rubrik Fokus, kami berupaya untuk menyajikan secara utuh apa itu organisasi gesit, mengapa menjadi penting, seperti apa contohnya, dan bagaimana membentuknya. Kontributor kami, Martijn Rademaker, profesor dari Amsterdam Business School menyumbangkan gagasannya melalui tulisan “Organisasi Gesit Berorientasi Pelanggan”. Untuk mengetahui cara penerapannya, kami hadirkan kasus ING, perusahaan jasa keuangan yang berbasis di Belanda dalam bertransformasi menuju agile. Kami juga mengajak pembaca melihat model agile yang diterapkan oleh Spotify untuk melawan Google.

Selamat menyongsong 2019 dengan menjadi gesit!


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *